Skip to content

Nyalain Lampu Sein, Aspek Penting yang Kerap Terlupakan

2 April 2017

SAAT berlalu lintas jalan selalu saja ada yang terlupakan. Padahal, tidak jarang yang terlupakan tadi membuat suasana jalan raya menjadi tidak nyaman. 

Ketidaknyamanan tadi bisa merembet menjadi insiden, bahkan kecelakaan. Bila itu terjadi bisa repot semuanya. Jadilah kita teringat jargon bahwa hal gede kerap diawali persoalan yang dianggap sepele. 

Salah satu yang kerap terlupakan adalah menyalakan lampu penunjuk arah atau kondang disebut lampu sein. Umumnya sesuatu yang terlupakan terjadi karena dianggap sepele. Namanya juga manusia, saking banyaknya pikiran, menyalakan lampu sein menjadi bukan prioritas.

Tahukah kita bahwa menyalakan lampu sein amat membantu pengguna jalan yang lain? Di sisi lain, tentu saja membantu upaya meminimalisasi terjadinya kecelakaan sekaligus memangkas fatalitas. 

Lampu sein amat membantu ketika pengendara hendak berbelok atau berpindah lajur. Bahkan, termasuk saat akan mendahului.

Di negara kita, pengendara yang hendak berbelok atau berubah arah, wajib menyalakan lampu sein. Tentu saja, setelah berbelok lampu seinnya dimatikan.

Kewajiban itu diatur oleh Undang Undang (UU) No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Artinya, jika sudah diatur dalam perundangan sebenarnya bukan lagi persoalan sepele. Lahirnya aturan amat mungkin lewat kajian yang mendalam. Ada akar persoalan yang serius sehingga harua diatur.

Sekadar menyegarkan ingatan kita, dalam pasal 112, ayat (1) UU itu disebutkan bahwa pengemudi kendaraan yang akan berbelok atau berbalik arah wajib mengamati situasi lalu lintas di depan, di samping, dan di belakang kendaraan serta memberikan isyarat dengan lampu penunjuk arah atau isyarat tangan.

Lalu pada ayat (2) pengemudi kendaraan yang akan berpindah lajur atau bergerak ke samping wajib mengamati situasi lalu lintas di depan, di samping, dan di belakang kendaraan serta memberikan isyarat.

Oh ya, UU No 22/2009 pada pasal 294 menegaskan bahwa pengendara yang berbelok atau berbalik arah tanpa memberi isyarat lampu penunjuk arah atau isyarat tangan bakal diganjar pidana. Tinggal pilih, mau pidana penjara maksimal satu bulan atau denda Rp 250 ribu.

Bisa jadi aturan itu lahir untuk menghindari adanya tabrak samping.  Atau, bahkan tabrak belakang. Bila pergerakan kendaraan di depan tidak dapat diterka, tabrak samping amat mungkin ketika kendaraan tadi tiba-tiba berbelok.

Di perkotaan atau pelosok pemukiman, menyalakan lampu sein penting ketika keluar atau masuk gang. Menyalakan lampu sein dilengkapi dengan melihat situasi sekeliling mampu meredam potensi terjadinya kecelakaan di jalan pemukiman. Saat hendak keluar atau masuk gang menjadi lebih nyaman bila diiringi menyalakan lampu sein. Yakin deh. (edo rusyanto) 

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: