Skip to content

Jurus Meredam Kebiasaan Buruk Berponsel Saat Berkendara

1 April 2017

SAAT demikian deras serbuan era digital dan media sosial (medsos) membuat banyak orang kewalahan. Orang menjadi sulit mengontrol waktu ketika kecanduan medsos. Kapan dan dimana saja, jemari lekat dengan telepon seluler (ponsel).

Sepuluh tahun lalu masih mudah melihat penumpang membaca buku atau koran di angkutan umum. Kini, pria dan wanita lebih asyik mengutak-atik ponsel. Walau, bukan mustahil di antaranya adalah sedang membaca buku, tapi dalam wujud digital.

Sepuluh tahun lalu, masih mudah melihat anak-anak membaca buku cerita atau komik di sela mereka berkumpul dengan teman. Kini, banyak saya lihat mereka lebih asyik mengutak-atik game yang ada di ponsel. Termasuk, game online yang menyedot adrenalin.

Sebaliknya dengan para pengendara. Sepuluh tahun lalu, rasanya sulit menjumpai mereka yang sambil nyetir dibarengi aktifitas berponsel. Kini, kita dengan mudah melihat pengendara yang nyambil berponsel padahal sedang mengemudikan kendaraan. Tidak hanya pengendara mobil, kini tak sedikit pengendara sepeda motor yang nekat berponsel sambil menunggang kuda besi.

Kalau mau jujur, aktifitas mengemudi sambil berponsel mengganggu sang pelaku dan pengguna jalan yang lain. Entah itu menelepon, menerima telepon, mengirim pesan, atau membaca pesan, dapat mengganggu konsentrasi pengendara. Laju kendaraan menjadi tidak wajar dengan begitu mengusik kenyamanan pengguna jalan yang lain.

Jurus yang saya pakai untuk meredam hasrat berponsel saat berkendara hanya dua. Pertama, menempatkan keselamatan sebagai prioritas saat berlalu lintas jalan. Kedua, selalu ingat keluarga tercinta di rumah. Mereka ingin saya kembali selamat tiba di rumah.

Ternyata kedua jurus itu cukup jitu. Bila terjebak kecelakaan sehingga menghapus produktifitas, terbayang bagaimana kian beratnya kehidupan keluarga. Selaku tiang ekonomi keluarga, keselamatan berlalu lintas menjadi mutlak. Rasanya menjadi tidak adil ketika kita egois lewat aksi berponsel saat mengemudi dan terjebak kecelakaan fatal. Lalu, keluarga yang memikul risikonya. (edo rusyanto)

Iklan
One Comment leave one →
  1. 2 April 2017 18:53

    Sip ajib eyang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: