Skip to content

Kisah Sopir Truk Pasir Menyeruduk Lima Motor

31 Maret 2017

PETANG baru saja merangkak menuju malam. Jarum jam menunjukkan pukul setengah lima sore. Cuaca di langit tampak cerah dan lalu lintas jalan ramai oleh kendaraan bermotor.

Sadik, kita sapa saja demikian, memilih naik bus angkutan umum untuk kembali ke rumah. Sedangkan sang isteri bersama anak perempuannya menunggang sepeda motor skutik. Mereka berangkat dari Magelang menuju Demak, Jawa Tengah.

Bus penuh penumpang melaju normal. Penumpang silih berganti naik dan turun. Bus melambat di jalan menurun dan menikung. Antrean kendaraan cukup ramai sehingga laju kendaraan tersendat. Tiba-tiba telepon seluler (ponsel) berbunyi karena ada pesan tertulis (SMS) yang masuk. SMS datang dari nomor ponsel isterinya. “Tapi tidak ada kata-katanya,” sergah Sadik.

SMS itu datang sampai tiga kali. Merasa penasaran, pria itu berinisiatif menelepon ponsel isterinya. “Yang mengangkat polisi dari Sektor Ambarawa. Dia bilang istri saya mengalami kecelakaan lalu lintas dan saya diminta ke Rumah Sakit Umum Ambarawa,” ujarnya.

Dunia seakan terbalik. Keceriaan yang baru saja dilalui sirna. Di rumah sakit Sadik melihat sang isteri terbujur kaku, meninggal dunia. “Tapi anak saya tidak ada,” kata dia.

Keesokan harinya sang anak ditemukan, juga sudah meninggal dunia di dalam jurang. Anak perempuan Sadik terkubur oleh pasir yang berasar dari truk yang menabrak mereka.

Truk Maut

Kesemua itu bermula saat truk yang dikemudikan, Toroh, kita sebut saja begitu, lepas kendali di jalan menurun dan menikung. Dump truck atau truk besar beroda sepuluh itu sedang mengangkut pasir sebanyak 30 ton. “Saya coba mengurangi kecepatan kendaraan dengan memindah perseneleng ke gigi rendah, tetapi ternyata tidak bisa, kemudian tiba tiba remnya blong dan tidak bisa berfungsi,” tutur dia, dalam persidangan, tiga tahun lalu.

Dia pun mencoba menghindari kecelakaan dengan membuang setir ke kanan. Namun, dari arah berlawanan lalu lintas cukup ramai sehingga tidak jadi membuang setir ke kanan. Tabrakan dengan kendaraan yang ada di depannya pun tidak terhindari.

Lima sepeda motor dan tiga mobil, termasuk bus dihantam oleh truk Toroh. Truk berakhir masuk jurang.

Lima orang meninggal dunia akibat kecelakaan tersebut, sedangkan dua orang menderita luka-luka. Toroh pun diseret ke meja hijau. Pria itu dijerat dengan pasal 2 dan 4 pasal 310 Undang Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ).

Perjuangan mencari keadilan pun bergulir. Setelah melewati berbagai persidangan, lima bulan kemudian Toroh diganjar lima tahun penjara dan denda Rp 10 juta. Selain itu, SIM BII Toroh pun dicabut. Kecelakaan lalu lintas jalan selalu menyakitkan dan berdampak luas. (edo rusyanto)

foto:ilustrasi jalan raya

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: