Skip to content

Motor Nyumbang 71% Kecelakaan di Indonesia

29 Maret 2017

MEMBACA judul di atas bagi sebagian orang merasa biasa saja. Alasannya, kendaraan yang paling banyak wira-wiri di jalan raya adalah sepeda motor. Praktis, berpeluang mendominasi kecelakaan lalu lintas jalan.

Di sisi lain, bagi yang menganggap judul di atas adalah persoalan, tidak buru-buru menyimpulkan masalah dari satu sudut pandang. Mereka akan mengaitkannya dengan beragam aspek. Mulai sosial, transportasi, ekonomi, bahkan hingga aspek hukum. Sah-sah saja.

Angka 71% kendaraan yang terlibat kecelakaan adalah sepeda motor berasal dari data Korlantas Mabes Polri. Komposisi itu untuk peristiwa tahun 2016. Sedangkan cakupan kejadian melingkupi seluruh wilayah Indonesia.

Mau jumlah persis sepeda motor yang terlibat kecelakaan setiap harinya?

Pada 2015, setiap hari rata-rata ada 303 sepeda motor yang terlibat kecelakaan di jalan. Jangan kaget, pada 2016, rata-rata ada 372 motor yang terlibat kecelakaan per hari. Artinya, jumlah motor yang terlibat kecelakaan melonjak 23%.

Benar bahwa angka itu merupakan kasus kecelakaan yang baru tercatat pihak kepolisian. Realita di lapangan bukan mustahil bisa lebih banyak mengingat tidak semua kecelakaan dapat tercatat.

Pertanyaannya, mampukah kita membendung derasnya keterlibatan sepeda motor dalam kecelakaan? Atau, maukah kita memangkas fatalitas kecelakaan lalu lintas?

Guna menjawab kedua pertanyaan di atas ada baiknya diawali dengan mengenali faktor utama yang memicu kecelakaan. Pengenalan masalah secara mendalam diharapkan mampu memberi arah jalan keluar yang relevan.

Fakta data menyebutkan, dua pemicu utama terjadinya kecelakaan adalah lengah dan tidak tertib saat berlalu lintas jalan. Keduanya bertalian erat dengan perilaku pengendara. Bukan persoalan ketrampilan.

Lalu, apa saja yang bisa membuat pengendara lengah dan tidak tertib? Jawabannya pasti segudang.

Pada 2016, rata-rata ada 372 sepeda motor yang terlibat kecelakaan per hari

Pastinya, kelengahan mampu merusak konsentrasi pengendara. Buntutnya, yaitu tadi, kecelakaan. Sedangkan tidak tertib alias melanggar aturan mengurangi kemampuan mengantisipasi situasi sehingga tabrakan begitu mudah terjadi.

Soal tidak tertib, ambil saja contoh pelanggaran melawan arah. Posisi pengendara yang di jalur semestinya menjadi korban lantaran ulah sang pelanggar.

Pendekatan yang pas memudahkan kampanye keselamatan jalan berbuah manis. Pengendara yang diajak untuk lebih peduli keselamatan dirinya dan orang lain perlu dibuka mata dan pikirannya. Terlibat dalam kecelakaan amat menyakitkan sekaligus merugikan. Karena itu, mutlak untuk menjadikan keselamatan sebagai kebutuhan.

Segala sesuatu yang dianggap sebagai kebutuhan akan diperjuangkan. Secara sukarela akan diupayakan agar terwujud. Namanya juga kebutuhan, seseorang akan habis-habisan untuk memenuhinya.

Lantas muncul pikiran jahil. Jangan-jangan, melanggar aturan di jalan sudah menjadi kebutuhan? (edo rusyanto)

Iklan
One Comment leave one →
  1. 6 September 2017 11:14

    wkwkwkwk

    pijat terapi kejantanan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: