Skip to content

Sim Salabim Melenggang Tanpa SIM

28 Maret 2017

KEBERANIAN melenggang di jalan raya tanpa surat izin mengemudi (SIM) bukan barang baru. Semangat untuk itu seperti terlestarikan. Entah karena merasa belum merasa dirugikan atas perbuatan itu atau karena menganggap sepele. Atau, bahkan gabungan dari keduanya.

Kelompok usia di bawah umur sudah pasti tanpa SIM. Maklum, persyaratan memperoleh SIM minimal berusia 17 tahun. Lantas, jika mereka yang melampaui batasan usia itu masih berkendara tanpa SIM apa alasannya?

Pertama, sulitnya ujian SIM. Warga yang mengajukan permohonan SIM harus melalui beberapa tahapan sebelum akhirnya memperoleh SIM yang diharapkan. Tahapan itu mencakup tes kesehatan, ujian tertulis, tes psikoogi, dan ujian praktik. Ujian praktik mencakup tes simulasi dan tes mengemudi kendaraan, baik itu sepeda motor maupun mobil.
Terkait ujian tertulis, ironis memang. Maksudnya, sebelum mengikuti ujian banyak dari para pemohon yang tak pernah belajar materi yang diujikan, namun tiba-tiba ikut ujian. Pantas saja kesulitan menjawab. Tapi, namanya juga ujian, tentu memiliki tantangan.
Ngomong-ngomong sebenarnya di dunia maya bertebaran materi ujian tertulis, bahkan ada yang disimulasikan di laman milik kepolisian. Asal kita mau berselancar dan tentu saja membaca dan menjajalnya, bisa menjadi sedikit bekal saat menghadapi ujian tertulis tadi.

Pelaku kecelakaan lalu lintas jalan yang tanpa SIM jumlahnya melonjak 47% pada 2016.

Kedua, dianggap mahal biayanya. Sejatinya biaya resmi memperoleh SIM tidak lebih dari Rp 200 ribu. Namun, lantaran terjebak dalam praktik sim salabim alias jalan pintas, angka yang mencuat pun fantastis. Ada yang membayar Rp 600 ribu, bahkan hingga Rp 850 ribu. Maklum, berlaku hukum penawaran dan permintaan. Miris.

Ketiga, repot dan waktu terbatas. Alasan yang satu ini bisa jadi menimpa orang-orang tertentu yang super sibuk. Saking sibuknya, tak ada celah waktu untuk mengurus permohonan SIM.

Pastinya, SIM adalah mandat negara kepada warganya. Namanya juga mandat, sewaktu-waktu dapat dicabut. Tentu lewat mekanisme yang dipatok oleh regulasi yang berlaku.

Legalitas mengemudikan kendaraan di jalan raya bukan semata formalitas. Dia adalah upaya meminimalisasi potensi terjadinya petaka jalan raya bernama kecelakaan lalu lintas jalan. Pemahaman akan rambu dan marka jalan serta ketrampilan menjadi bekal saat berlalu lintas jalan.

Tiba-tiba kita disodori fakta bahwa pelaku kecelakaan lalu lintas jalan yang tanpa SIM jumlahnya melonjak pada 2016. Lonjakannya pun tidak tanggung-tanggung, yakni sekitar 47% bila dibandingkan tahun 2015.

Pada 2016, menurut data Korlantas Mabes Polri, kontribusi pelaku tanpa SIM menyentuh 46,71%. Angka itu setara dengan 182 pelaku kecelakaan per hari.
Kontribusi pelaku kecelakaan tanpa SIM juga meningkat pada 2016. Maklum, setahun sebelumnya, kontribusi kelompok yang satu ini sebesar 45,40%. Setiap hari, pada 2015, rata-rata ada 124 pelaku kecelakaan. Tuh kan. (edo rusyanto)

foto: akun ig korlantas

Iklan
One Comment leave one →
  1. Aa Ikhwan permalink
    28 Maret 2017 19:39

    Ngeriii

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: