Skip to content

Kecelakaan Dapat Memiskinkan Kita

24 Maret 2017

KECELAKAAN lalu lintas jalan berdampak luas. Mulai dari menimbulkan korban luka dan korban jiwa, kerugian material hingga persoalan hukum.

Sepanjang 20 tahun terakhir, yakni 1997-2016, Indonesia kehilangan sekitar 372 ribu jiwa anak bangsa. Mereka meregang nyawa di jalan raya.

Masih dalam rentang waktu yang sama, sedikitnya 432 ribu anak negeri yang menderita luka berat. Sedangkan mereka yang menderita luka ringan menyentuh hampir 1,3 juta orang.

Di sisi lain, kerugian material secara langsung ditaksir menyentuh hingga Rp 2,3 triliun. Sekali lagi, ini kerugian material secara langsung, yakni akibat kerusakan kendaraan yang terlibat kecelakaan.

Kecelakaan lalu lintas jalan memang menyakitkan. Dalam rentang waktu itu rerata setiap hari ada 59 jiwa yang tewas sia-sia akibat kecelakaan. Dan, setiap hari 230 orang menderita luka-luka. Miris.

Bagaimana kecelakaan dapat memiskinkan kita?

Mari kita pinjam data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Badan itu menyatakan bahwa kerugian akibat kecelakaan lalu lintas jalan berkisar 2,9-3,1% dari produk domestik bruto (PDB) nasional. Pada 2011, Bappenas menghitung kerugian yang ditimbulkan secara langsung dan tidak langsung mencapai berkisar Rp 203-217 triliun. Angka itu muncul berdasarkan PDB Indonesia tahun 200 yang sebesar Rp 7.000 triliun. Luar biasa!

Masih merujuk data Bappenas. Jika PDB Indonesia pada 2016 sekitar Rp 12.406,8 triliun, artinya kerugian yang ditimbulkan akibat kecelakaan mencapai sekitar Rp 384,5 triliun. Mengerikan.

Kecelakaan tentu saja menimbulkan dampak ekonomi secara langsung kepada korban maupun keluarga korban. Misal, pesepeda motor mengalami kecelakaan yang menimbulkan luka berat dan kerusakan serius pada sepeda motornya.

Bayangkan, berapa kerugian finansial yang terjadi. Lagi-lagi, misalnya, untuk berobat menghabiskan Rp 300 juta. Lalu, nilai kendaraan Rp 30 juta dan mengganti kerugian Rp 20 juta.

Belum lagi, potensi kehilangan (potential loss) akibat tidak bekerja selama sakit. Dan, ketika sembuh dari sakit tidak lagi mampu bekerja, potential loss tadi kian membesar. Seandainya setiap bulan mestinya memiliki pendapatan Rp 10 juta, karena sakit selama lima bulan, hilang potensi pendapatan Rp 50 juta.

Kesemua itu hitung-hitungan kasar. Hal pasti yang akan dialami oleh korban dan keluarga korban kecelakaan adalah keluarnya biaya pengobatan dan kerugian material kendaraan. Besarannya berbeda.

Situasi akan lebih berat ketika tiang ekonomi keluarga hilang. Bila korban meninggal dunia akibat kecelakaan adalah sumber penghidupan keluarga, situasi dapat lebih berat. Biaya kehidupan keluarga, termasuk untuk pendidikan dan kesehatan dapat lebih berat lagi. (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: