Skip to content

Ngantuk, Pria Ini Menghantam Tiang Listrik

23 Maret 2017

PAGI baru saja merangkak menuju siang. Lalu lintas jalan dipadati kendaraan bermotor. Mereka bergerak dari pinggir menuju ke tengah kota Jakarta.
Di salah satu sudut Jl Raya Bogor, Jakarta Timur, pagi itu ada pemandangan agak tak biasa. Sejumlah orang berkerumun. Arus kendaraan melambat, termasuk saya.

Dari jarak tak lebih dari lima meter tampak seorang pria paruh baya duduk di emper toko. Posisi kakinya lurus. Tampak sejumlah goresan luka di bagian kaki. Celana panjang yang dipakainya tampak terkoyak. Saya menepikan kendaraan.

“Saya tiba-tiba jatuh. Motor nabrak tiang listrik,” ujar pria paruh baya tadi, pertengahan Maret 2017 pagi.

Dia menunjuk sepeda motornya yang terparkir di sisi jalan, tak jauh dari posisinya duduk. Tampak bagian sayap sepeda motor bebeknya patah. Ada goresan cat warna merah di tiang listrik yang ditabraknya. Bekas benturan dengan sepeda motornya.

“Bapak ngantuk?” tanya seorang pria, sebelum saya sempat merapat memberi pertolongan lebih lanjut.

Korban kecelakaan tunggal itu mengangguk. Para pria yang menolong sang bapak tampak membantu sebisanya. Ada yang memberi air putih untuk menenangkan sang bapak. Saya lihat sang bapak cedera ringan di bagian kaki.

Masalah Ngantuk

Lagi-lagi, ngantuk menjadi biang kerok terjadinya kecelakaan lalu lintas jalan. Bukan apa-apa. Ngantuk memang potensial merusak konsentrasi para pengendara. Saat konsentrasi bertekuk lutut, jadilah insiden ataupun kecelakaan.

Saking berisikonya, ngantuk pun diatur dalam regulasi lalu lintas kita. Undang Undang (UU) No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) mewajibkan pengendara untuk terus berkonsentrasi saat berkendara. Maklum, bila tidak konsentrasi bakal memicu terjadinya kecelakaan.

Salah satu perusak konsentrasi adalah mengantuk. Karena itu, dapat ditafsirkan bahwa pengendara dilarang mengemudi ketika mengantuk. Bagi yang nekat melakukan hal itu bisa dicokok dengan sanksi pidana penjara tiga bulan atau denda maksimal Rp 750 ribu. Tapi, faktanya?

Fakta data memperlihatkan bahwa aspek mengantuk menyumbang sekitar 2% terhadap total kecelakaan di Indonesia. Setiap hari, rerata ada lima kasus kecelakaan yang dipicu mengantuk.

Masih nekat nyetir saat ngantuk? (edo rusyanto)

One Comment leave one →
  1. Aa Ikhwan permalink
    23 Maret 2017 13:03

    Ngerii

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: