Skip to content

Saat ERCI Jakarta Mengkritisi Aturan di Jalan

19 Maret 2017

SUASANA Teras Rimbun, Cibubur, Jakarta Timur cukup ramai. Destinasi wisata kuliner itu, Minggu, 19 Maret 2017 siang kedatangan beragam tamu. Selain anggota kelompok musik Purwacaraka, tampak pula anggota Ertiga Club Indonesia (ERCI) Jakarta.

Kawasan kuliner ini berisi berbagai kedai makanan dan minuman. Mayoritas menu yang disodorkan berasal dari beragam kawasan di Nusantara. Tak heran jika para pengunjung yang datang memang ingin bergoyang lidah.

Di sudut lain di area itu ada juga wahana bergoyang badan sambil memeras keringat, yakni lapangan futsal. Sedangkan di bagian belakang tersedia sejumlah kolam pemancingan. Khusus yang satu ini bahkan menyediakan perlombaan bagi yang gemar hobi memancing ikan. Sekali lagi, memancing ikan yah, bukan memancing kerusuhan.

Kedatangan saya ke Teras Rimbun kali ini atas ajakan kolega saya Riezha. “Oom Edo, bisa bantu ngasih materi seputar aturan lalu lintas jalan dari persepsi pegiat keselamatan jalan di acara ERCI Jakarta,” pinta dia, beberapa pekan sebelumnya.

Saya jawab bahwa kami di Jaringan Aksi Keselamatan Jalan (Jarak Aman) dengan senang hati untuk berbagi dan berdiskusi soal keselamatan jalan alias road safety. Karena itu, ajakan Riezha tadi langsung saya iyakan. Setelah mendapat waktu dan lokasi yang pasti, serta tentu saja waktunya pas buat saya, jadilah acara itu bergulir.

Saya bertemu Riezha ketika aktif di Road Safety Association (RSA) Indonesia. Pria muda itu juga sekaligus punggawa ERCI Jakarta. “Pengetahuan soal undang undang lalu lintas sangat penting buat anggota kami,” ujar dia, saat kami bertemu, Minggu itu.

Di kedai makan yang disulap menjadi arena diskusi santai, kami pun akhirnya mengulas point-point penting Undang Undang (UU) No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Pemahaman tentang aturan menjadi penting guna mewujudkan lalu lintas jalan yang aman dan selamat. Menuju lalu lintas jalan yang humanis.

Paparan pembuka diskusi saya ajak dua puluhan anggota ERCI Jakarta untuk melihat rekam jejak kecelakaan lalu lintas jalan sepanjang 1997-2016. Indonesia masih memiliki catatan hitam di jalan raya akibat jutaan kasus kecelakaan dalam rentang waktu tersebut. Buntutnya, lebih dari satu juta pengguna jalan mengalami luka dan cacat seumur hidup. Belum lagi, sedikitnya 300 ribu jiwa meregang nyawa di jalan raya.

Setidaknya ada 41 point atau aturan terkait pengguna kendaraan pribadi, baik itu pesepeda motor maupun pengendara mobil. Tentu saja kesempatan kali ini kami tak bisa mempreteli hingga tuntas. Butuh waktu seharian untuk menguliti aturan atau ke-41 point tadi. Karena itu, saya pilih point yang berdekatan dengan anggota kelompok mobil dan terkait keselamatan berlalu lintas jalan. Sebut saja misalnya, soal penggunaan lampu penunjuk arah saat berbelok atau pindah lajur. Lalu, pentingnya konsentrasi, pemahaman soal hak utama, asuransi, dan kelengkapan surat kendaraan serta pentingnya menjaga jarak aman berkendara.

“Tapi, soal belum membayar pajak, semestinya tidak ditilang. Karena, ketika pengendara telat membayar pajak, dia dikenai sanksi denda. Jadi, polisi semestinya tidak bisa menilang orang yang telat membayar pajak,” tutur salah seorang anggota ERCI Jakarta, siang itu.

Aturan yang satu ini memang kerap menjadi topik perdebatan. Sedangkan pihak kepolisian berlindung pada aturan bahwa surat tanda nomor kendaraan (STNK) yang salah satunya mencerminkan pembayaran pajak, harus disahkan setiap satu tahun sekali. Jika tidak ada pengesahan ketika perpanjangan itu maka dianggap tidak sah sehingga dapat ditilang. Menarik memang.

Soal lain yang dikritisi adalah terkait siapa saja yang mendapat hak utama di jalan raya. Apakah rombongan touring mendapat prioritas di jalan?


Hal ini penting difahami mengingat rombongan touring yang meminta prioritas dapat mencabik-cabik rasa keadilan para pengguna jalan yang lainnya. Kami coba menyamakan persepsi bahwa pemberian prioritas atau hak utama di jalan bertumpu pada dua hal, yakni genting dan penting. Pertanyaannya, apakah rombongan touring masuk kedalam dua hal itu?

Aturan lain yang disoroti adalah seputar mendahulukan orang yang sudah lebih dahulu untuk berpindah lajur atau berbelok. Hal ini merujuk pada pengalaman salah satu anggota ERCI Jakarta yang mobilnya diserempet pengguna jalan lain yang tidak sabaran. Padahal, anggota ERCI itu hendak memberi kesempatan kepada kendaraan lain di depannya yang hendak berbelok arah. “Apakah penyerempet saya itu masuk kategori tindakan sengaja atau lalai?” seloroh perempuan anggota ERCI itu.

Lalai adalah tindakan yang semestinya dilakukan, tapi tidak dilaksanakan sehingga menimbulkan kecelakaan lalu lintas jalan. Praktis, kejadian seperti yang diceritakan perempuan tadi masuk kategori lalai. Dalam hal ini bisa saja dituntut secara hukum.

Perbincangan terus mengalir dan semakin siang semakin seru. Bahkan, menyerempet hingga tips bagaimana menghadapi ulah petugas yang mencoba nakal. Terkait hal ini modal dasar pengguna jalan adalah memahami aturan secara baik sehingga tidak terjebak dalam tindakan yang tidak perlu. Setuju? (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: