Skip to content

Jangankan Rambu, Rantai pun Diangkat Pesepeda Motor

16 Maret 2017

ADA-ADA saja jurus ‘menaklukkan’ aturan di jalan. Bayangkan, pernah suatu ketika separator busway yang terbuat dari beton diangkat ramai-ramai oleh pesepeda motor di Jakarta. Tujuannya, untuk menerobos jalur khusus bus itu. Tentu, beramai-ramai.

Jurus mencari jalan pintas tadi ujung-ujungnya bisa ditebak, yakni pingin tiba ditujuan dalam waktu yang lebih singkat. Sekalipun ironisnya, di sisi lain merampas hak pengguna jalan. Ibarat kata, mau enak sendiri dengan mengabaikan hak orang lain.

Pemandangan seperti itulah yang saya jumpai di kawasan Cimanggis, Depok, Jawa Barat. Persisnya, di Jl Raya Bogor. Di titik putaran jalan terpasang tanda dilarang berputar. Aneh juga yah, ruang untuk berputar, tapi diberi tanda larangan berputar.

Tidak hanya itu. Selain dipasangi rambu larangan berputar, di area itu juga dipasangi rantai. Patut diduga bahwa rantai tadi dipasang karena kehadiran rambu tadi tidak bertaji. Benar saja, suatu siang saya melihat adegan penerobosan rantai tersebut. Caranya?

Cukup sederhana. Para pesepeda motor yang hendak berputar mengangkat rantai tersebut sehingga seluruh badan sepeda motor bisa menerobos. Selanjutnya tinggal berputar dan langsung tancap gas.

Para penerobos tadi lebih dimudahkan ketika berboncengan. Maksudnya, sang pengendara dan penumpang berbagi tugas. Sang penumpang mengangkat rantai dan sang pengendara tinggal melaju di kolongnya. Beres.

Bagi yang bersepeda motor sendirian agak sedikit bekerja keras. Dalam kondisi mesin sepeda motor masih hidup, tangan yang satu mengangkat rantai. Sedangkan tangan yang satu memegang setang motor.

Padahal, tak lebih dari 100 meter dari lokasi putaran terlarang itu terdapat putaran yang legal. Entah kenapa, para penerobos tadi lebih memilih menerabas rambu dan mengangkat rantai ketimbang sedikit meluangkan waktu berputar di area yang semestinya. Kalau dihitung-hitung, waktu yang dibutuhkan sangat berbeda tipis. Lagi-lagi kita dibuat terheran-heran.

Itulah salah satu potret jalan raya kita. Upaya memangkas waktu dengan mencari jalan pintas menjadi keseharian. Bila tidak merampas hak orang lain sebenarnya sah-sah saja. Tapi, ketika menerabas aturan yang ada rasanya menjadi tidak elok. Dan, jangan lupa, kecelakaan kerap kali diawali oleh pelanggaran aturan di jalan. Kalau sudah begitu, bisa jadi runyam semuanya. (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: