Skip to content

Kisah Nenek Penjual Pecal Keliling Kampung Jakarta

12 Maret 2017

HUJAN deras mengguyur pinggiran Jakarta. Nenek bertopi tudung anyaman menepikan gerobak dorongnya. Berteduh di emperan toko.

Yuk Yatno (65 tahun) siang itu baru saja separuh perjalanan keliling kampung menjajakan makanan tradisional pecal. Gerobak kayu dengan dua roda menemaninya mengais rezeki di belantara Jakarta. Keriput di wajahnya tak menyurutkan langkah. Tulang-tulangnya yang menua tak mengendurkan semangat mendorong beban gerobak.

“Saya sudah 40 tahun berjualan pecal lontong. Dulu, jualannya dijunjung di kepala, sekarang pakai gerobak,” tutur nenek dengan empat cucu itu, saat berbincang dengan saya, Sabtu, 11 Maret 2017 siang.

Dia bercerita, awalnya sempat kepikiran tidak sanggup mendorong gerobak kiloan meter keluar masuk kampung. Maklum, awalnya barang dagangan ditaruh di atas kepala dan digendong. “Suami saya bilang, kalau sudah biasa, tidak akan berat. Jadilah saya coba dan sampai sekarang, sudah biasa,” selorohnya.

Saat itu kami sama-sama berteduh di emperan toko. Percikan air hujan menjadi teman. Saya memilih berbincang dengannya seraya memesan satu porsi pecal. Isinya, sayuran, tempe bacem, sambal kacang, dan lontong. “Harganya Rp 8 ribu,” kata Nenek Yatno, seraya menyerahkan pesanan saya yang sudah siap disantap.

Pecal dibungkus dengan daun pisang. Untuk menyantap pecal, disediakan tusukan kayu kecil mirip tusuk gigi di restoran. Rasanya cukup menggoyang lidah. “Saya masak sendiri. Bahan-bahan beli di pasar. Pagi masak, terus siangnya jualan keliling kampung,” sergah nenek asal Solo itu.

Menurut sang nenek, bila sedang beruntung dagangannya ludes seharian. Tapi, belakangan ini hal itu tidak sering terjadi mengingat cuaca sering hujan. Kalau hujan seharian praktis dia tidak bisa berkeliling kampung. “Kalau habis semua paling saya dapat Rp 300 ribu dalam sehari,” tuturnya.

Dia mengaku datang ke Jakarta tahun 1977. Usai menikah dia berjualan pecal untuk bertahan hidup. Suaminya berjualan mie rebus keliling. “Saya beli tanah secara kredit, terus bikin rumah untuk sekadar tempat tinggal,” ujar nenek Yatno.

Saya jadi ingat bahwa Jakarta selalu membuka diri dan punya tempat bagi mereka yang mau bekerja keras. Peluang mengais rezeki selalu ada. Apalagi bagi mereka yang pantang menyerah dan tidak cengeng menghadapi kerasnya Jakarta.

Nenek Yatno mengajarkan kita akan pentingnya kegigihan. Modal semangat dan kemauan dibarengi dengan kesungguhan serta tidak perlu malu mengumpulkan seperak demi seperak. Bukan seperti pejabat yang rakus mengorupsi duit pajak rakyat.

“Cucu saya sekarang malah sudah kuliah,” kata sang nenek menutup perbincangan kami karena saya harus segera beringsut dari lokasi berteduh. (edo rusyanto)

Iklan
One Comment leave one →
  1. Yola Agzaria permalink
    31 Agustus 2017 14:28

    Bapak mohon maaf nih syaa mau nanya. Bapak tau ibu2 ini dari mana? Bapak tau ibu ini tinggal dimna? Soalnya sya mau meliput

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: