Skip to content

Naluri Mencari Pembenaran di Jalan

8 Maret 2017

IZINKAN saya membuka tulisan kali ini dengan dua kata, yakni benar dan baik.

Sesuatu yang benar merujuk pada aturan atau regulasi. Sedangkan hal baik bertumpu pada etika. Lantas, apa kaitannya dengan keseharian di jalan raya?

Ketika berlalu lintas jalan, tindakan yang benar adalah sesuai Undang Undang (UU) No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Tentu saja beserta perangkat turunannya. Mulai dari peraturan pemerintah (PP), peraturan menteri (permen), peraturan daerah (perda) hingga peraturan gubernur (pergub).

UU tadi menjadi rujukan bagi para pengguna jalan. Inti aturan itu menaungi tujuan berlalu lintas jalan agar lebih aman dan selamat. Bayangkan bila masing-masing pengguna jalan memakai aturan sendiri, pasti jalan raya karut marut. Ibarat hukum rimba, mereka yang kuat adalah pemenangnya.

Sebagai ilustrasi, soal cara berbelok. Regulasi yang berlaku mewajibkan pengendara menghidupkan lampu penunjuk arah atau kondang disebut lampu sein. Atau, dapat pula dengan memberi isyarat tangan.

Faktanya, ada pesepeda motor yang hendak berbelok justeru memakai isyarat kaki. Cara yang tadi selain salah juga mencerminkan arogansi.

Contoh lain, soal lampu isyarat dan bunyi-bunyian alias sirene dan strobo. UU No 22/2009 jelas mengatur jenis dan siapa saja yang berhak memakai. Salah satunya adalah lampu warna biru dan sirene yang peruntukannya bagi petugas keamanan, baik itu polisi maupun militer.

Ketika di jalan ada warga sipil yang memakai perangkat itu dan mengaktifkannya, menjadi janggal. Bayangkan kalau semua pengendara memakai hal itu? Jalan raya lebih meriah dibandingkan pasar malam.

Kita ambil contoh yang ketiga, soal trotoar. Aturan yang berlaku menegaskan bahwa itu adalah fasilitas bagi pedestrian.

Saat para pengendara melintas atau parkir disana, runyam urusannya. Sudah terjadi perampasan hak dan mencabik-cabik rasa keadilan, bahkan kemanusiaan kita.

Dari tiga contoh tersebut mengajak kita untuk mencaritahu lebih jauh aturan apa saja yang sebenarnya berlaku di jalan raya. Bukan melulu soal betot gas atau tarik rem. Jangan sampai kita dianggap lalai lalu berurusan dengan pengadilan. Lalai bermakna pengendara tidak melakukan yang semestinya dilakukan sehingga memicu kecelakaan yang dapat saja mengakibatkan korban jiwa.

Sepatutnya ketika melakukan pembenaran punya pemahaman aturan dan logika yang kuat. Bukan asal ngejeplak. Itu namanya omong kosong.

Nah, sekarang soal berlalu lintas yang baik. Kita sepakat hal baik bertumpu pada etika. Sedangkan etika betsubstansi pada keadaban manusia yang menjunjung nilai-nilai kemanusiaan.

Sebagai ilustrasi, cara berpakaian saat bersepeda motor. Di kawasan wisata pantai tertentu pesepeda motor yang memakai pakaian minim dianggap lumrah. Warga tidak mempersoalkan dan dianggap sah-sah saja.

Bayangkan jika berpakaian minim nan mengumbar aurat itu di perkotaan, tidak usah di kawasan religius, di kawasan yang lebih moderat pun akan terasa risih.

Mari kita ambil contoh lain, meraung-raungkan mesin atau membunyikan klakson nyaring di kawasan peribadatan. Atau, di kawasan pemukiman saat dinihari. Atau, bahkan saat perempatan lampu merah.

Rasanya menjadi tidak baik saat mengganggu kekhusuan warga yang sedang beribadah atau istirahat tidur. Bisa-bisa menyulut gesekan sosial.

Soal etika nenek moyang kita punya pepatah, dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung.

Sebagai penutup, cerdaslah mencari pembenaran yang merujuk pada regulasi. Walau, kita juga diajarkan bahwa di atas hukum ada etika. Selamat mencari pembenaran. (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s