Skip to content

Mereka Bertahan Hidup Pakai Motor

7 Maret 2017

TAK semua sepeda motor dibeli untuk gaya hidup. Gaya-gayaan.

Banyak juga yang memanfaatkan si roda dua sebagai alat mencari nafkah buat keluarga. Bahkan, untuk sekadar bertahan hidup.

Di kota tempat saya tinggal, di Jakarta, setidaknya kendaraan bermotor roda dua tersebut banyak dimanfaatkan untuk mengantar pergi dan pulang ke tempat bekerja. Salah satunya, saya.

Di sudut lain, tak jarang juga dimanfaatkan untuk menjajakan barang dagangan. Mulai dari berjualan minuman ringan, mainan anak-anak, bakso hingga sayur mayur. Sudah barang tentu bagi pedagang tertentu, aktifitas berjalan setelah sepeda motor mereka mendapat sedikut sentuhan modifikasi.

Bagi profesi tertentu, tak sedikit juga yang memanfaatkan motor untuk angkutan barang. Entah itu makanan, sayur mayur hingga obat-obatan. Bahkan, tak semata benda mati yang diangkut. Pernah juga saya lihat sepeda motor dimanfaatkan mengangkut hewan ternak.

Barang yang diangkut bisa dari pusat produksi ke kantong-kantong pemasaran. Atau, dari pasar ke rantai distribusi paling hilir seperti kedai atau toko di pemukiman penduduk. Semua sah-sah saja. Demi menafkahi keluarga.

Hal yang patut menjadi perhatian adalah saat menyangkut keselamatan berlalu lintas jalan. Keselamatan pengendara maupun barang yang dibawanya jangan terabaikan. Misal, ketika mengangkut barang, volumenya tidak berlebihan. Besar atau banyaknya barang yang diangkut jangan dipaksakan sampai-sampai mengurangi kemampuan pengendara menstabilkan sepeda motornya. Manuver sang pengendara menjadi amat terbatas.

Masih soal keselamatan. Tak jarang kita jumpai pengendara atau penumpang yang tidak memakai helm pelindung kepala. Hal ini tentu amat riskan. Apalagi bila ditambah lagi dengan perilaku ugal-ugalan lainnya seperti menerobos lampu merah. Risiko yang dipikul kian membesar.

Betul bahwa hidup adalah risiko. Pilihan bijak tentu saja memperkecil risiko. Alih-alih ingin menafkahi keluarga justeru malah celaka lantaran perilaku spekulatif. Bila ini terjadi tiang ekonomi keluarga menjadi luluh lantak. Pada gilirannya bisa merembet kemana-mana. Jangan lupa bahwa sekitar 60% korban kecelakaan terganggu ekonominya.

Dan, jangan lupa juga, 71% kendaraan yang terlibat kecelakaan adalah sepeda motor. (edo rusyanto)

Iklan
One Comment leave one →
  1. 7 Maret 2017 12:08

    Bawa jangkrik itu kayaknya.hehehehe tiap pagi kalau saya berangkat kerja sering nemuin kayak gitu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s