Skip to content

Laskar Kopi Sepeda di Jakarta

1 Maret 2017

sepeda-kopi-baznas1

SAAT malam merangkak menuju pagi, sahabat setia adalah segelas kopi. Perbincangan mengalir sesekali disisipi canda tawa melepas penat kerja satu hari. Rutinitas ini nyaris setiap hari sebelum pulang beristirahat di rumah untuk menjemput mimpi.

Kopi hangat tadi lahir dari kemasan instan yang disajikan pria-pria muda bersepeda. Mereka hadir di lingkungan tempat saya bekerja, nyaris tanpa jeda. Pagi, siang, sore hingga malam menjelang pagi mereka melayani dengan setia. Tentu saja, dalam rentang waktu tadi dilayani dengan orang yang berbeda.

Laskar kopi sepeda tadi punya julukan berbeda-beda. Di tempat kami, di kawasan sudut Kuningan, Jakarta Selatan kondang disapa starling. Sebutan itu plesetan dari starbak keliling yang merujuk pada waralaba kopi global. Ada juga yang menyebutnya koling alias kopi keliling. Maklum, ada juga terselip yang menggunakan sepeda motor untuk menjajakan dagangannya.

Sebenarnya, minuman instan yang dijajakan tak semata kopi. Ada juga teh, susu, rokok, kacang goreng hingga minuman suplemen. Untuk minuman juga tersedia pilihan dengan campuran es batu.

Di lingkungan kami para pedagangnya dari etnis tertentu, yakni Madura, Jawa Timur. Mereka punya tempat tinggal tertentu di kawasan Jakarta Pusat. Kegigihan mereka mengayuh sepeda berkeliling menunjukan Jakarta selaku memberi ruang bagi mereka yang mencari uang.

Omzet mereka setiap beroperasi berbeda-beda. Dengan harga minuman yang dibanderol berkisar Rp 3.000-5.000, bila mampu menjual 100 gelas bisa dihitung setidaknya Rp 300 ribu. Sebuah angka yang menggoda untuk profesi sektor informal.

Malam lalu ada yang berbeda dari biasanya. Salah satu pedagang tadi memakai sepeda kayuh baru. Di bagian belakang sepeda tertulis ‘Kopi Sepeda’dan tulisan ‘Baznas’ lengkap dengan logonya. “Saya dapat sepeda gratis. Kalau beli harganya bisa sampai Rp 1,2 juta,” tutur Budi, kita sapa saja begitu, pedagang kopi keliling pemilik sepeda saat berbincang dengan saya, Selasa, 28 Februari 2017 malam.

sepeda-kopi-jakarta

Untuk mendapatkan bantuan sepeda dirinya bersama yang lain cukup menyerahkan kartu tanda penduduk alias KTP.

Dia bercerita, selain sepeda kayuh, dirinya bersama sejumlah teman juga mendapat modal barang dagangan. Nilainya sekitar Rp 900 ribu. Barang dagangan itu berupa minuman kemasan yang siap diseduh. “Ada 50 orang yang dapat. Kami cukup memberikan KTP. Masih ada 50 orang lagi yang akan mendapat bantuan,” sergah pria muda tadi.

Seorang temannya yang malam itu berdagang di tempat yang sama mengaku belum mendapat bantuan. Dia bercerita bahwa saat ada pembagian sepeda dirinya sedang pulang kampung.

Ya. Laskar kopi sepeda menjadi contoh bagaimana Jakarta memberi peluang bagi mereka yang gigih berjuang. Mengais rezeki, memeras keringat secara halal. Selalu ada jalan bagi mereka yang mau berusaha, tidak mengeluh pada kerasnya kehidupan kota megapolitan.

Laskar ini juga memperlihatkan bahwa mereka bersepeda kayuh bukan gaya-gayaan. Sepeda kayuh menjadi alat mencari nafkah. Setiap hari mengayuh pedal untuk dapat bertahan hidup. Sepeda menjadi alat utama menelusuri lekuk-lekuk Jakarta yang disesaki jutaan kendaraan bermotor.

Terus berjuang kawan-kawan. (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: