Skip to content

Menikmati TPS di Bawah Pohon Rambutan

16 Februari 2017

tps-jaktim-pohon-rambutan2

CUACA kota Jakarta pagi itu cerah. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya yang diguyur hujan.

Sejak awal Februari 2017 Jakarta seakan tak henti diguyur hujan. Maklum, kata orang jika dekat dengan Tahun Baru Imlek yang tahun ini jatuh pada 28 Januari 2017, hujan sebagai penanda rezeki biasanya selalu hadir. Dan, ternyata betul. Hujan terus berdatangan.

Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, Rabu, 15 Februari 2017 pagi, cuaca cerah. Di kampung tempat saya tinggal di Jakarta pinggiran, orang-orang berduyun-duyun mendatangi tempat pemungutan suara (TPS). Dari rumah saya, lokasi TPS sekitar 200 meter. Ada apa?

Ya. 15 Februari 2017 menjadi hari bersejarah bagi warga Jakarta karena hari itu merupakan hari pemilihan kepala daerah (pilkada). Warga datang ke TPS untuk memilih pasangan calon (paslon) gubernur. Kali ini ada tiga paslon, yakni Agus Harimurti Yudhoyono dan Silvy Murni (AHY-Silvy), Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat (Ahok-Djarot), serta Anies Baswedan-Sandiaga Uno (Anies-Sandi).

Pagi itu sekitar pukul 10.00 WIB saya pun bergegas ke TPS yang letaknya di halaman rumah ketua RT. Saat saya tiba, puluhan bahkan mungkin seratusan warga sudah antre untuk mencoblos. Mereka berdiri di bawah rindangnya pohon rambutan. Sebagian lagi duduk di kursi plastik warna hijau. Sedangkan mereka yang namanya sudah dipanggil panitia dipersilakan duduk di kursi yang ada di bawah tenda, persis di depan bilik suara.

Di bagian lain, jajaran sepeda motor tampak terparkir. Saya menduga kuda besi itu milik warga yang hendak mencoblos. Sepenglihatan saya, mereka yang datang mengendarai sepeda motor mayoritas tidak memakai helm pelindung kepala. “Cuma dekat saja kok jaraknya,” seloroh sang warga saat berbincang dengan saya, Rabu, 15 Februari 2017 pagi.
tps-papan-pilkada-2017a
Ya, kalimat itu sering saya dengar, ‘hanya jarak dekat jadi tidak perlu pakai helm.’ Entah itu alasan sesungguhnya atau sekadar pembenaran. Pernah pada suatu ketika saya berbincang soal kalimat itu ternyata ada lanjutannya. Misal, tidak ada yang menilang karena tidak ada polisi. Hemmm…

Sekitar 45 menit mengantre giliran, akhirnya tiba giliran saya mencoblos. Sang petugas TPS meminta ponsel tidak dibawa ke bilik suara seraya menyerahkan kertas suara dengan memperlihatkan bahwa kertas itu masih bersih. Tak perlu waktu lama, coblos, lipat, lalu masukan ke kotak suara. Tak lupa setelah mengambil ponsel yang tadi dititipkan, saya mencelupkan jari tangan ke tinta yang sudah disediakan sebagai tanda telah memberikan hak suara. Beres.

Saat hendak pulang ke rumah, jajaran sepeda motor yang terparkir masih tampak. Namun, jumlahnya sudah berkurang. Lagi-lagi, mayoritas yang datang dan pergi tidak memakai helm. (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: