Skip to content

Sosok Perempuan di Balik Kenaikan Santunan Kecelakaan

15 Februari 2017

sri-mulyani-indrawati_ist

DALAM sebuah seminar ekonomi di Jakarta, belum lama ini, seorang pria parlente berbisik kepada saya, “Seminar ini bintangnya adalah ibu menteri keuangan.”

Pernyataan dia tidak keliru. Ruangan seminar penuh sesak oleh peserta yang datang dari beragam kalangan. Ada bankir, praktisi bisnis, pemain pasar modal, pengembang properti hingga para jurnalis. Namun, setelah sang menteri usai memberi sambutan dan paparan, jumlah peserta menyusut.

“Ibu Sri Mulyani itu cerdas dan menarik,” sergah pria muda itu lagi yang saya timpali dengan tersenyum.

Ya, perempuan bernama lengkap Sri Mulyani Indrawati adalah menteri keuangan di era Presiden Joko Widodo yang saat ini sedang berkuasa. Perempuan mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu dipilih karena dianggap mampu menggairahkan perekonomian dan menstabilkan neraca keuangan pemerintah.

Ibu tiga anak kelahiran Bandar Lampung, 26 Agustus 1962 itu selalu tampil sederhana. Setidaknya itu yang saya lihat dalam beberapa kesempatan, termasuk terakhir dalam sebuah seminar di Balai Kartini, Jakarta Selatan. Saat itu, bahkan dia sempat berseloroh bahwa Indonesia adalah penghasil mutiara bagus-bagus, tapi gelang Menteri Keuangan hanya kecil.

Perempuan yang pernah menjadi Direktur Eksekutif IMF lahir dari keluarga berpendidikan. Kedua orang tuanya adalah professor dan guru besar di Universitas Negeri Semarang, Jawa Tengah.

Kecerdasan Sri Mulyani memukau dua presiden Indonesia. Ketika Susilo Bambang Yudyono berkuasa, anak ketujuh dari sepuluh bersaudara itu pun didaulat sebagai menteri keuangan. Begitu juga ketika Joko Widodo berkuasa saat ini, perempuan pemilik gelar doktor dari University of Illinois Urbana-Champaign, Amerika Serikat itu diminta sebagai menteri keuangan.

Nah, lewat tangan Sri Mulyani Indrawati negara kita punya catatan sejarah penting terkait keselamatan berlalu lintas jalan. Persisnya, terkait besaran santunan bagi korban kecelakaan.

Pada 2008, saat menjadi menteri keuangan bagi kabinet SBY, Sri Mulyani menaikkan santunan bagi korban meninggal dari Rp 10 juta menjadi Rp 25 juta. Kini, dalam kabinet Jokowi, yakni pada 2017, dia menaikkan lagi dari Rp 25 juta menjadi Rp 50 juta. Santunan bagi korban kecelakaan dibayarkan oleh PT Jasa Raharja selaku perpanjangan tangan pemerintah.

Kementerian Keuangan dalam siaran persnya, Senin, 13 Februari 2017 menyatakan, peningkatan santunan dimaksud termuat dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 15/PMK.010/2017 tentang Besar Santunan dan Iuran Wajib Dana Pertanggungan Wajib Kecelakaan Penumpang Alat Angkutan Penumpang Umum di Darat, Sungai/Danau, Feri/Penyeberangan, Laut, dan Udara (PMK Nomor 15/2017). Selain itu, termuat dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 16/PMK.010/2017 tentang Besar Santunan dan Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan (PMK Nomor 16/2017).

img_20170214_005031
Kedua PMK tersebut di atas merupakan penyesuaian dari Peraturan Menteri Keuangan Nomor 37/PMK.010/2008 tentang Besar Santunan dan Iuran Wajib Dana Pertanggungan Wajib Kecelakaan Penumpang Alat Angkutan Penumpang Umum di Darat, Sungai/Danau, Feri/Penyeberangan, Laut dan Udara. Selain itu, Peraturan Menteri Keuangan Nomor 36/PMK.010/2008 tentang Besar Santunan dan Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan.

Kebijakan menaikkan 100% santunan bagi korban meninggal dunia itu berlaku 1 Juli 2017. Sedangkan besaran Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan (SWDKLLJ) besarannya tetap alias tidak naik.

Selain santunan kepada ahli waris korban kecelakaan yang meninggal dunia, PMK tahun 2017 itu menyebutkan bahwa penggantian biaya perawatan dokter naik 100%. Lalu; penggantian biaya penguburan (jika tidak ada ahli waris) naik 100%. Selain itu; manfaat baru berupa penggantian biaya ambulans dan penggantian biaya pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K). (edo rusyanto)

foto:istimewa

Iklan
One Comment leave one →
  1. 20 Februari 2017 13:06

    Mungkin bisa dipertimbangkan utk artikel berikut tentang pengalaman pengurusan santunan setelah terjadi kecelakaan, beberapa kali saya cuma baca share pengalaman betapa sulitnya mencairkan santunan tsb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: