Skip to content

Pria Ini Berani Menghadapi Arogansi Patwal

14 Februari 2017

catur-fb-patwal-arogan

AROGANSI kekuasaan di jalan raya dapat dengan mudah dijumpai saat ini. Inti dari keangkuhan itu bermuara pada minta diprioritaskan. Sedikit yang berani melakukan perlawanan.

Salah satu dari yang sedikit itu adalah pemilik akun media sosial facebook Prasetyo Dewanto. Dua hari lalu dimencantumkan nama saya dalam daftar nama yang ingin dia bagikan kronologisnya. Saya pun membaca hingga tuntas, tentu sekakigus mengomentarinya.

“Emosi jadi awal segalanya. Tahu aturan aja ternyata belum cukup. Terimakasih infonya. Btw, kadang ada petugas yg lupa, pengawalan belum tentu dapat prioirtas. Lagi2, juga ada yg lupa, prioritaskan yg genting, bukan yg penting.,” tulis saya di akun facebook dia.

Dia menimpali, “Kalimat yang selalu saya ingat prioritaskan yang genting bukan yang penting (wawancara trans tv-waktu tu).”

Hal serupa saya lontarkan saat wawancara di stasiun televisi TV One.

Pengalaman Dewanto menarik publik bahkan media massa. Pria itu terpaksa mengahadapi perilaku petugas pengawalan pejabat tinggi yang dia nilai arogan. Bagaimana tidak, tulisnya, saat dia sudah tidak bisa meminggirkan kendaraannya lagi untuk memberi ruang bagi rombongan pejabat itu mobilnya diseruduk sang patwal. Tak berhenti disitu ada kalimat verbal yang arogan, bahkan sampai keluar pertanyaan dari mulut sang petugas, “Anda siapa? ”

Sebuah pertanyaan konyol. “Bukan cuma itu, muka saya ditunjuk-tunjuk,” papar Dewanto.

Tak terima perlakuan kasar itu kasus pun berlanjut. Ada permintaan untuk menyelesaikan sengketa tadi di kantor sang pejabat tinggi tadi. Dewanto menghadapinya. Selengkapnya kronologis tersebut bisa dibaca di bagian bawah tulisan ini.

Ngomong-ngomong sosok Dewanto tak asing bagi saya. Pria jebolan Universitas Indonesia itu saya kenal sekitar 27 tahun lalu.

Saya pernah nebeng di kost pria bertubuh gempal tersebut. Lewat dia pula saya belajar soal ketegasan dan menulis. Termasuk tentu saja belajar kenakalan anak muda saat itu.

Maklum, selain aktivis mahasiswa pecinta alam, Dewanto yang akrab disapa Catur itu merupakan aktivis pers mahasiswa. Seingat saya dia pun pernah bekerja sebagai wartawan di salah satu majalah terbitan Jakarta.

Praktis, tak perlu mengajari dia soal membangun kredibilitas dan obyektifitas.

Soal arogansi di jalan raya umumnya dilakukan oleh mereka yang merasa memiliki kekuasaan atau kekuatan hukum, politik, sosial hingga ekonomi. Siapa pun dia bisa arogan. Lihat saja bagaimana arogannya pengguna jalan yang merampas hak penumpang bus di jalur bus Trans Jakarta. Atau, sopir angkot yang memindahkan penumpangnya ke mobil lain karena enggan masuk ke terminal.

busway-dijarah

Arogansi Patwal

Dua (2) kali saya berurusan dengan Pasukan Pengawal (Patwal) pejabat. Kebetulan pejabat yang sama yaitu B 63 RI. Kejadian pertama pada awal tahun 2016 di kemacetan tol Kebun Jeruk. Patwal itu meminta agar saya meminggirkan kendaraan dengan sirene meraung-raung. Posisi saya ada paling kanan sebelah sparator yang tidak memungkinkan minggir ke kanan. Minggir ke sebelah kiri juga tidak mungkin, karena banyak kendaraan. Karena tidak mungkin minggir, saya buka jendela dan berkata “enggak mungkin,”. Patwal itu dengan keras menjawab “anda siapa!” (cerita itu sudah saya share di sosial media).

kejadian kedua pagi ini jam 09.00 (130217) turunan setelah fly over Tomang menuju cideng sebelum lampu merah jalan Biak. Saya mengendarai perlahan karena memang macet dan mengambil lajur paling kanan. Didepan ada truk ukuran sedang. Mendadak dibelakang ada bunyi sirene dilajur yang sama. Posisi saya ada di depan dua kendaraan pribadi lainnya. Saya tidak mungkin minggir kekiri karena ada kendaraan, ke kanan mentok sparator. Kalau mau minggir saya menunggu atau mengikuti truk didepan. Baru saja terpikir seperti itu terdengar benturan keras dari belakang, bukan sekali tapi dua kali. Saya menghentikan kendaraan.

polisi itu dengan pongahnya mengatakan saya tidak mau minggir. Saya minta dia bertanggung jawab, namun dia bersikeras tanya “saya siapa”. Emosi hampir tak terkendali, termasuk istri saya. Saling tunjuk muka dengan tepisan tangan. Alhasil tangan saya sedikit terluka. Saya minta agar diselesaikan. Polisi itu menunjuk ke belakang mobil B 63 RI. Jendela dibuka, pejabat itu bilang selesaikan di kantor Mahkamah Konstitusi. Rupanya dia adalah Wakil Mahkamah Konstitusi Dr. Anwar Usman. Saya minta agar istri saya memotret semua pihak.

Akhirnya saya mengikuti ke Mahkamah Konstitusi. Saya dipersilahkan masuk ke sebuah ruangan di parkir basement. Disana sudah ada patwal tadi yang ternyata namanya Punky (tidak menyebut pangkatnya) dan tiga orang yang memakai baju safari. Orang pertama memperkenalkan diri sebagai atasannya yaitu Iptu Dani (terakhir mengatakan dia juga ajudan) dan Amir (ajudan wakil ketua MK) dan seorang lagi entah siapa.

mereka meminta saya menceritakan kronologinya. Saya ceritakan kembali dengan menggambarkannya diatas kertas. Patwal itu pun menceritakan alasannya, saya dituduh tidak mau minggir. Saya bersikeras bukannya tidak mau minggir tapi situasinya tidak memungkinkan. Saya meminta kalau mau diselesaikan ke pengadilan ayo silahkan. Terakhir Iptu Dani menyarankan berdamai. Saya bilang oke damai, tapi jelaskan pasal berapa saya melanggar dan pasal berapa seorang patwal berhak menabrakkan kendaraannya ke mobil pribadi yang situasinya tidak memungkinkan untuk minggir.

Iptu itu mengatakan, memang tidak ada peraturannya seorang patwal menabrakkan kendaraannya. Iptu itu kembali menawarkan damai sembari meminta maaf atas kejadian tersebut di sertai biaya ganti rugi. Namun ganti rugi itu saya tolak karena bukan tujuan saya. Saya hanya ingin mengetahui apakah dibenarkan dan ternyata jawabannya adalah tidak dibenarkan seorang patwal menabrak mobil pribadi, apalagi ada niat untuk meminggirkan kendaraan.

alih-alih Patwal itu meminta maaf, dia mengatakan dia harus cepat karena permintaan pejabat yanh mau ada rapat (pengadilan). Rekan patwal juga mengatakan kalau rumah patwal itu di Depok dan harus memberi pengawalan pejabat tadi dari Serpong-Mahkamah Konstitusi. Saya menyimak, oke lupakan semua perkataan, karena saya dan patwal sama-sama lelah (saya lelah karena kemacetatan, dan patwal lelah karena jauh) sehingga tersulut emosi. Saya minta penegasan sekali lagi, apakah saya salah dan melanggar pasal berapa? kemudian apakah dibenarkan patwal menabrak kendaraan didepannya. Jawabnya sekali lagi, saya tidak salah dan tidak dibenarkan seorang patwal untuk menabrakkan kendaraannya.

akhirnya saya menerima permintaan maaf dan mengatakan akan menceritakan ini di sosial media agar publik mengetahui. Mereka awalnya tidak memberi ijin. Namun saya bersikeras agar tidak ada lagi arogansi patwal di jalan raya. Akhirnya mereka mengatakan, silahkan pak. (edo rusyanto)

Iklan
One Comment leave one →
  1. EKT permalink
    14 Februari 2017 14:18

    patwal juga manusia… anak buah yang hanya nerima komando, ini tdk akan terjadi jika sdh ada rule2 dan batasan ketika bekerja dari atasan yg memberi perintah/dilayani

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: