Skip to content

Mengenang Jejak Muslim Tiongkok Laksamana Cheng Hoo di Pandaan

5 Februari 2017

masjid-cheng-hoo-pandaan-bahasa1

SIANG merangkak menuju senja saat kami mendekati Sidoarjo, Jawa Timur. Kota yang sempat dihebohkan oleh luapan lumpur tiada henti itu menjadi tujuan perjalanan kami kali ini. Saat itu kami berangkat dari Malang menuju bandara di Sidoarjo.

“Sebelum sampai ke Sidoarjo bolehkah mampir sejenak ke Masjid Cheng Hoo?” tanya seorang teman di dalam mobil yang kami tumpangi, Sabtu, 4 Februari 2017 sore.

Kami berlima di dalam mobil multi purpose vehicle (MPV) besutan Jepang itu pun setuju. Sang pengemudi yang warga Kota Malang, Jawa Timur lalu menepikan mobil, masuk ke area parkir masjid berwarna merah menyala yang terletak persis di pinggir jalan. Jalan tersebut menghubungkan Malang dengan Surabaya.

Terus terang ini adalah kali pertama saya menjejakkan kaki di mesjid yang diresmikan Bupati Pasuruan, Jusbakir Aldjufri pada 27 Juni 2008 itu. Jujur saja, timbul penasaran seperti apa masjid yang dimaksud. Apakah sama dengan mesjid Cheng Ho di Batam, Kepulauan Riau?

Ternyata, beda. Dari sisi luas saja, masjid Muhammad Cheng Hoo di Pandaan, Pasuruan ini berkali lipat lebih luas. Termasuk tentu saja area parkir yang tersedia bisa menampung lebih banyak kendaraan bermotor. Bahkan, mampu menampung bus berukuran besar.

Saat saya tiba tampak banyak umat yang singgah. Tak semata untuk beribadah sholat dan beristirahat, tampak juga yang berpose mengabadikan kehadirannya di masjid itu dengan menggunakan kamera. “Mas minta tolong fotoin saya di depan masjid yah,” pinta seorang warga yang saya jumpai sore itu.

Bagi para pengendara, baik mobil maupun sepeda motor, kesempatan beristirahat menjadi penting. Tubuh yang lelah saat berkendara bisa merusak konsentrasi. Setidakya, bagi pesepeda motor beristirahat setiap dua jam berkendara mampu memulihkan kebugaran. Sedangkan pemobil, setidaknya setiap empat jam sekali diselingi istirahat juga menghasilkan hal yang sama.

masjid-cheng-hoo-pandaan1

Maklum, kondisi tubuh yang lelah bisa merusak konsentrasi. Padahal, kita tahu bahwa konsentrasi mutlak dalam mewujudkan keselamatan ketika berkendara. Kunci terjaganya konsentrasi ada pada kemampuan fokus dan menjaga kewaspadaan saat berkendara.

Muslim Tiongkok

Masjid Muhammad Cheng Hoo adalah masjid pertama yang memakai nama Cheng Hoo. Arsitekturnya yang mengadopsi bangunan Tiongkok amat kontras dibandingkan dengan masjid-masjid lainnya di kawasan itu. Itu pula yang menyedot perhatian orang yang melihatnya.

Bangunan megah masjid mudah terlihat dari pinggir jalan. Di bagian depan terdapat gerbang dan panduan yang jelas untuk menuju lokasi parkir maupun untuk masuk ke dalam masjid. Terdapat gerbang tinggi yang dominan berwarna merah. Sedangkan di bagian depan terdapat prasasti peresmian masjid dan monument guratan sejarah mengenai Laksmana Muhammad Cheng Hoo alias Zheng He.

Disebutkan bahwa Laksmana Cheng Hoo adalah pelaut yang berani dan sudah dikenal cerdas sejak kecil. Cheng Hoo merupakan muslim Tiongkok yang salah satu nenek moyangnya adalah Zaidnsyeh Syamsuddin, seorang raja di Xian Yang, provinsi Yunnan. Ayahnya, yakni Ma Hazhi dikenal sangat baik dan penolong.

Saat mendapat tugas sebagai Laksamana pasukan laut kerajaan, Cheng Hoo memiliki pasukan laut terbesar saat itu dengan 27 ribu pasukan dan 100 kapal. Dia mengarungi tujuh samudera, berlayar ke berbagai belahan dunia, termasuk ke Nusantara. Misi perjalanan menjalin hubungan baik, mengembangkan kebudayaan dan perdagangan, serta menjalin dan meningkatkan komunikasi dengan negara-negara lain di dunia.

masjid-cheng-hoo-pandaan-depan1

Singkat cerita, kapal yang dipimpin Laksmana Cheng Hoo mengarungi 50 tempat di dunia dan membuka 41 jalur pelayaran internasional. Termasuk tempat yang dikunjungi adalah Nusantara, yakni Majapahit di Jawa, Kerajaan Samboja di Palembang, dan Samudera Pasai di Sumatera.

Semarang dan Surabaya disebutkan sebagai pelabuhan penting yang sering dikunjungi Laksamana. Pada 1961, cendekiawan muslim besar Buya Haji Hamka pernah menulis, “Seorang muslim dari China yang amat erat kaitannya dengan kemajuan dan perkembangan agama Islam di Indonesia dan Melayu adalah Laksamana Cheng Hoo (Zheng He).”

Pendiri Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo (Zheng He), Bambang Sujanto, dalam prasasti menuturkan, untuk memonumentalkan dan mencatat fakta perjalanan Cheng Hoo, pihaknya mendirikan masjid di Pandaan. “Kami berharap agar Masjid Cheng Hoo (Zheng He) beserta Prasasti yang terukir ini akan dikenang dan difahami oleh generasis mendatang,” kata dia, dalam Prasasti yang terletak di pintu masuk ke dalam masjid.

masjid-cheng-hoo-pandaan-edo-duduk

Kawasan masjid ditata dengan apik. Papan petunjuk atau informasi cukup membantu pengunjung yang masuk untuk beribadah maupun sholat. Bahkan, di dekat masjid tersedia sejumlah tempat untuk membeli oleh-oleh khas Pandaan. Silakan berkunjung. (edo rusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: