Skip to content

Soal Mengajarkan Siswa Menulis Keselamatan Jalan

28 Januari 2017

safety-riding-camp_004

SEBUAH surat elektronik (surel) dari staf Astra Honda Motor (AHM) menggoda perhatian saya. Surel yang saya terima baru-baru ini berisi seputar bagaimana produsen sepeda motor itu mengajarkan siswa menulis keselamatan bersepeda moto (safety riding) di ranah blog.

Sebanyak 150 pelajar sekolah menengah atas (SMA) dari 22 sekolah binaan AHM diinapkan dalam Safety Riding Camp, di Ciloto, Cianjur, 23-24 Januari 2017. Mereka dibekali keterampilan safety riding sekaligus pengetahuan dan praktik tentang fotografi dan blogging.

Deputy Head of Corporate Communication AHM Ahmad Muhibbuddin, dalam surel itu mengatakan, tren media sosial menjadi inspirasi untuk melibatkan generasi muda dalam penyampaian pesan keselamatan berkendara kepada khalayak yang lebih luas.

Tapi, ada lagi yang menarik. Dia bilang, anak-anak muda ini juga punya niat baik untuk berpartisipasi di bidang safety riding. “Kami yakin kebaikan yang dikelola dengan benar akan menghasilkan kekuatan yang dahsyat untuk sebuah perubahan di bidang keselamatan berkendara,” katanya.

Kalimat langsung di atas perlu saya garis bawahi. Bagi saya, inilah esensi utama dari aktifitas AHM kali ini. Saya tidak tahu persis apa saja yang dilakukan selama dalam kamp itu. Dugaan saya, transformasi nilai-nilai juga bergulir kepada siswa-siswi SMA yang mengikuti program tersebut.

Dalam keseharian di jalan raya, terutama di kota tempat saya tinggal, yakni Jakarta, nilai-nilai kemanusiaan seakan terkikis. Setidaknya, banyak perilaku pengguna jalan yang mencerminkan keengganan berbagi ruas jalan. Egoisme demikian kentara ketika merampas hak pengguna jalan lainnya. Sebut saja misalnya, pengendara yang menjarah trotoar. Jelas-jelas bahwa trotoar adalah hak pejalan kaki, namun dirampas begitu saja. Pertanyaannya, kemana nurani dan akal sehat ketika melakukan pelanggaran aturan di jalan itu?

Saya menduga, kamp yang digulirkan AHM sarat dengan transformasi nilai-nilai kemanusiaan sebagai pijakan mentaati aturan di jalan. Ketrampilan dan pengetahuan safety riding menjadi hambar manakala miskin ketaatan pada aturan. Regulasi yang berlaku sejatinya membungkus para pengguna jalan dalam kerangka keselamatan berlalu lintas. Tak heran jika kepolisian melontarkan jargon bahwa kecelakaan kerap kali diawali oleh pelanggaran aturan di jalan. (edo rusyanto)

foto:dok ahm

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: