Skip to content

Mau Moge, Mau Mocil Semua Bisa Begini

25 Januari 2017

motor-tertib-di-menteng-2017c
SAAT melintas di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, baru-baru ini ada pemandangan yang menyejukkan. Bukan taman Menteng yang memang keren, tapi soal perilaku pesepeda motornya. Begini ceritanya.

Pagi itu cuaca cerah. Matahari menghangatkan tubuh. Angin juga ikut menerpa, tapi dengan lembut.

Lalu lintas di Jl HOS Cokroaminoto, Menteng ramai lancar. Saya datang dari arah Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan mengarah ke Tugu Tani, Jakarta Pusat. Praktis, hari Minggu itu saya berpapasan dengan banyak kendaraan bermotor yang tidak bisa melintas di Jl MH Thamrin dan Jl Sudirman yang sedang menerapkan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) alias Car Free Day.

Kawasan Menteng itu salah satu pusat aktifitas warga kota. Taman Menteng merupakan salah satu tujuan warga berolahraga pagi, bahkan bagi sebagian komunitas pesepeda motor dijadikan tempat kopi darat alias kopdar. Di sepanjang jalan berdiri pusat kuliner dan bisnis. Pada hari biasa amat ramai hingga malam hari.

Nah, di sudut perempatan jalan, persisnya yang mengarah ke Tugu Tani, saya berhenti. Iya, wong lampu pengatur lalu lintas berwarna merah. Mereka yang mendapat giliran lampu hijau pun melenggang. Jumlahnya tidak terlalu banyak sehingga ada celah bagi pengguna sepeda motor yang nyelonong aja, mencuri-curi kesempatan. Miris.

Tunggu dulu, perilaku nyelonong tadi ternyata tidak menggoda pengguna jalan lainnya, termasuk motor kecil (mocil) dan motor gede (moge) yang sudah berhenti lebih dulu di depan saya. Area tempat kami berhenti cukup lapang. Saya perhatikan, masih cukup ruang bagi yang hendak berhenti karena lampu berwarna merah.

Moge dan mocil yang ada di depan saya dengan tenang menanti warna lampu berganti menjadi hijau. Mereka berhenti di belakang garis setop. Ada yang sibuk melihat ponselnya. Tapi, pengguna moge yang satu itu sibuk berbincang antara pengendara dengan penumpangnya. Suasana demikian damai. Tidak ada yang terprovokasi menerobos lampu merah. Keren.

Menerobos lampu merah merupakan salah satu pelanggaran lalu lintas jalan yang tergolong berat. Bukan apa-apa. Pelanggaran yang satu ini bisa memicu terjadinya kecelakaan lalu lintas jalan. Baik dari arah berlawanan, maupun dari arah samping. Tak heran jika pelanggaran yang satu ini diganjar oleh ancaman sanksi yang denda yang tinggi, yakni maksimal Rp 500 ribu. Atau, pidana penjara maksimal dua bulan. (edo rusyanto)

Iklan
One Comment leave one →
  1. 25 Januari 2017 06:24

    Justeru yg jd provokator nerobos biasanya mocil.. Jadi, bukan lapu hijau yg ditunggu melainkan sepi dan kesempatan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s