Skip to content

Pengalaman Pertama Parkir Elektronik di Jakarta

24 Januari 2017

kotak-parkir-elektronik2

SALAH satu sudut kawasan Jakarta Pusat ini terkenal padat kendaraan bermotor. Maklum, posisinya persis di jantung kawasan bisnis dan pemerintahan yang cukup sibuk.

Ya, itulah gambaran singkat kawasan di Jl H Agus Salim, kawasan Sabang, Jakarta Pusat. Jalan ini amat dekat dengan kantor Gubernur DKI Jakarta. Bahkan, cukup dekat dengan Istana Presiden. Praktis, saat hari-hari kerja, kawasan ini sangat sibuk.

Bagaimana dengan hari Minggu atau hari libur?

Suatu pagi ketika hendak mencari sarapan, walau jamnya sudah mendekati pukul 11.00 WIB, saya lihat kawasan itu cukup lengang. Arus lalu lintas jalan terpantau ramai lancar. Sedangkan cuaca tampak cerah.

Tampak juga banyak remaja dan orang dewasa yang hilir mudik usai berolah raga. Ada yang berjalan kaki, menggunakan sepatu roda, dan ada yang menggunakan sepeda kayuh. maklum, Jl Sabang letaknya juga persis di bibir masuk ke areal Monumen Nasional (Monas) yang menjadi sentral kegiatan olah raga pagi masyarakat kota Jakarta.

Untuk urusan parkir, kawasan jalan ini sangat pada pada hari-hari kerja. Orang datang untuk berbelanja dan mencari makan siang. Areal yang disediakan ada di kanan dan kiri jalan, berhimpitan dengan trotoar tempat pedestrian melintas. Areal parkir itu persis di depan toko, hotel, atau restoran yang ada di jalan tersebut.

Oh ya, kawasan ini termasuk yang memanfaatkan sistem parkir elektronik. Para pengendara yang hendak membayar tariff parkir dapat menyerahkan uang kepada petugas parkir. Lalu, sang petugas akan memencet tombol digital yang disediakan di sisi jalan serta menempelkan semacam kartu debet yang dipegangnya. Jumlah yang di-input sesuai dengan tarif yang berlaku.

tarif-parkir-sabang-2017c

Tarif area itu Rp 5 ribu untuk mobil, Rp 2 ribu untuk motor, dan Rp 8 ribu untuk truk atau bus. Jumlah itu untuk satu jam pertama dan satu jam berikutnya. Misal, parkir dua jam, maka yang dibayar Rp 4 ribu untuk sepeda motor.

Nah, setelah petugas menempelkan semacam kartu debet tadi, akan keluar struk pembayaran parkir. Di struk itu tertera jumlah biaya yang dibayarkan konsumen. Selain itu, tertera juga saldo parkir sang petugas.

sabang-area-parkir2

Contohnya, dalam struk yang saya terima tertera tulisan saldo awal Rp 705 ribu, lalu ada tulisan saldo akhir Rp 695 ribu. Angka itu setelah saya membayar parkir Rp 10 ribu.

“Setiap hari ada 50-60 mobil yang parkir di area tempat saya jaga,” kata Tikno, petugas parkir yang memakai rompi biru kepada saya, baru-baru ini.

Sepenglihatan saya, di areal kawasan Sabang itu setidaknya ada lima petugas parkir yang memakai atribut serupa. Kawasan itu ditangani oleh Unit Pengelola Perparkiran Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta.

tiket-parkir-elektronik-jkt-2017a

“Saya mendapat gaji Rp 3,1 juta per bulan,” tambah petugas parkir tadi. (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: