Skip to content

Pesepeda Motor Ini Berbagi Cara Atasi Bell’s Palsy

23 Januari 2017

aan-jurnalis-foto2

KAMI larut dalam perbincangan. Saat itu, di sela menunaikan pekerjaan kantor, waktu terasa mengalir secara cepat. Topik kami, serangan belpasi alias bell’s palsy pada pesepeda motor.

Pengalaman bro Aan melepaskan diri dari serangan belpasi mencuri perhatian saya. Dia menuturkan bagaimana gejala awal serangan hingga akhirnya bisa melepaskan diri.

“Pengalaman ini ternyata bermula dari meremehkan pemakaian helm saat naik sepeda motor,” ujar jurnalis foto majalah terbitan Jakarta itu, saat berbincang dengan saya di Tangerang, Banten, baru-baru ini. 

Rasanya tak berlebihan bila pengalaman bro Aan saya teruskan dalam tulisan ini. Semoga bermanfaat. 

Sejak gabung di PnB, frekuensi bersepeda motor dari rumah ke kantor menjadi berkurang. Maklum, jarak kantor dari stasiun kereta Tebet sekitar 500 meter.

Kini, bawa sepeda motor hanya dari rumah ke stasiun kereta Kalideres, Jakarta Barat yang jaraknya sekitar 2 kilometer dari rumah saya.

Seru juga naik kereta commuterline, apalagi saat pulang kerja malam hari dari Jakarta ke Tangerang, penumpang relatif sepi, berbeda dengan ke arah ke Bogor. Badan nggak terlalu capek dan motor pun hanya dimanfaatkan sampai stasiun Kalideres.

Nah, karena itu, perlengkapan bersepeda motor pun jadi saya simpan. Helm fullface tersimpan di lemari, jaket pun demikian, begitu juga sarung tangan, bernasib sama. Semua itu jadi pada nganggur.

Saat pulang kerja dari kantor ke stasiun Tebet, cuma memakai topi dan badan dibungkus sweater. Kadang nggak pake sweater, hanya kemeja flanel aja. Hehehe.

Nahhhh, akhirnya pertengahan Desember 2016 kejadian itu datang. Waktu itu mau berangkat ke kantor jam 10.20. Sik-asik nyender di bangku kereta, tiba-tiba menguap dan sedetik kemudian rahang bawah (kanan) seperti ketarik dan keringat dingin keluar.

bells-palsy-ist

Di stasiun Pesing, akhirnya memutuskan pulang, balik ke arah Tangerang, turun stasiun Kalideres, pulang ke rumah.

Setelah menenggak tolak angin akhirnya tertidur dan terbangun jam 13.10. Tersadar belum sholat Dzuhur, akhirnya langsung ambil wudhu. Kaget dan bingung saat berkumur, air di dalam mulut keluar dengan bebas. Bingung jadinya.

Setelah bercermin, langsung istighfar…Hehehe astagfirullah, kenapa nih muka.

Mata dan mulut bagian kanan ke tarik dan segeralah browsing di ponsel. Alhasil, jadi tahu itu namanya penyakit bell’s palsy. Hal itu diakibatkan jaringan saraf ke tujuh melemah karena angin, terpaan angin terus menerus menjadi penyebabnya.

Akhirnya, saya memutuskan ke klinik dan hanya dikasih obat. Lalu, diterangkan bahwa penyebabnya hembusan angin yang salah satunya bisa berasal dari kipas angin.

Hasil berobat di klinik nggak ada perubahan. Akhirnya saya memutuskan untuk berobat secara herbal dan terapi akupunktur. Alhamdulillah sudah membaik. Saya berobat terapi akupuntur empat kali di Depok. Setiap berobat biayanya Rp 130 ribu.

Saat berobat, pak Andi, staf akupuntur bilang, coba diingat-ingat penyebab nya. Saya bilang, terpaan angin di wajah selama berbulan-bulan karena naik motor nggak pake helm. Saya ngaku salah.

Pak Andi pun bilang, jangan ngeremehin hal kecil. Walau jaraknya dekat, naik sepeda motor helm mesti dipakai. Banyak manfaatnya, termasuk melindungi dari terpaan angin. Orang cenderung berpikir sekadar melindungi kepala ketika terjadi benturan.

Dan, sekarang saya pakai helm lagi walau radius bersepeda motor dari rumah ke stasiun Kalideres cuma 2 km dan lewat jalan kampung. Tentu saja, kini memakai perlengkapan semestinya pesepeda motor yaitu helm, jaket, sarung tangan, dan penutup mulut atau buff. (edo rusyanto)

foto bells palsy: istimewa

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: