Skip to content

Pengakuan Jujur Pengguna Jalan di Bali

19 Januari 2017

bali-dan-motor-turis2

ARUS lalu lintas jalan cukup ramai siang itu. Permukaan aspal jalan dari Jimbaran ke Uluwatu, Bali yang mulus dan cuaca cerah dapat membius pengendara.

Benar saja. Tiba-tiba pengemudi minibus yang membawa kami dikagetkan oleh kehadiran pesepeda motor. Near miss.

“Banyak yang seperti itu pak, mereka melawan arah dan tidak pakai helm,” tutur Triz, kita sapa saja demikian, pengemudi bus sewaan yang mengantar kami wira-wiri selama di Bali, baru-baru ini.

Dia bercerita, beberapa tahun terakhir kehadiran sepeda motor kian meruyak di Bali. Masyarakat membutuhkan kendaraan untuk bermobilitas. Motor menjadi pilihan karena dua alasan besar. Di satu sisi karena di Bali tidak ada angkutan kota (angkot), di sisi lain, uang muka yang murah membuat masyarakat memilih sepeda motor sebagai kendaraan.

“Ada yang uang mukanya cuma Rp 500 ribu orang sudah bisa bawa sepeda motor ke rumah,” tambah pria warga Denpasar itu.

Tak heran jika sekitar 86% dari populasi kendaraan di Bali adalah peseda motor. Pada 2015, jumlah sepeda motor di Bali sekitar 3,01 juta unit.

Tapi, tambah dia, muncul persoalan lain, yakni kebiasaan bersepeda motor yang tidak aman dan selamat. Dua di antaranya adalah kebiasaan melawan arah dan tidak memakai helm saat bersepeda motor.

Pilihan melawan arah karena menganggap jika mengikuti jalur yang ada terlalu jauh. Misal, untuk berputar arah harus menempuh jarak ratusan meter, bahkan bisa lebih. Tapi, dengan melawan arah jarak tempuh menjadi lebih singkat. “Nah, kalau soal helm alasannya banyak, paling sering, karena jaraknya dekat. Tapi, saya lihat banyak yang didiamkan, tidak ditilang, padahal ada polisi di dekatnya,” seloroh Triz.

Sejujurnya, kondisi jalan seperti itu tak semata ada di Bali. Hampir seluruh kota yang pernah saya kunjungi di Indonesia, mempertontontkan tabiat yang sama. Naik sepeda motor tanpa helm dan melawan arah. Kesadaran akan keselamatan berlalu lintas jalan demikian memprihatinkan. Tak heran jika mayoritas kecelakaan melibatkan sepeda motor. (edo rusyanto)

Iklan
One Comment leave one →
  1. 25 Januari 2017 13:42

    kesadaran rendah, mudahnya memiliki kendaraan , berpikiran pendek (maunya serba singkat)..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: