Skip to content

Saat Para Presiden Mengatur Batas Kecepatan Maksimal

10 Januari 2017

rambu-kecepatan-tol-lengkap1

MASIH ingat peraturan menteri perhubungan (Permenhub) yang membatasi kecepatan maksimal di jalan raya? Bagaimana pelaksanaannya di kehidupan sehari-hari?

Baiklah, untuk menyegarkan ingatan, mari kita telusuri sejenak aturan yang mengatur seputar batas kecepatan laju kendaraan di jalan.

Payung hukum aturan batas kecepatan maksimal berawal dari UU No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Dalam aturan yang diteken Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu ditegaskan bahwa setiap jalan memiliki batas kecepatan paling tinggi yang ditetapkan secara nasional. Namun, atas pertimbangan keselamatan atau pertimbangan khusus lainnya, pemerintah daerah (pemda) dapat menetapkan batas kecepatan paling tinggi setempat yang harus dinyatakan dengan rambu lalu lintas.

Masih di era SBY, lahirlah peraturan pemerintah (PP) No 79 tahun 2013 tentang Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. PP yang lahir pada 10 Desember 2013. Dalam PP ini bahkan diatur pula batas kecepatan minimum. PP inilah yang akan menjadi rujukan bagi aturan teknis atau pelaksana di bawahnya.

Nah, saat era Presiden Joko Widodo, menteri perhubungan yang kala itu dijabat Ignatius Jonan menelorkan Permenhub No 11 tahun 2015 tentang Tata Cara Penetapan Batas Kecepatan,. Aturan yang satu ini isinya antara lain bahwa kecepatan maksimal di dalam kota adalah 50 kilometer per jam (kpj). Namun, untuk di pemukiman batas kecepatan paling tinggi adalah 30 kpj. Sedangkan untuk antarkota bisa mencapai 80 kpj.

Berbeda dengan jalan arteri atau jalan umum, batas kecepatan maksimal di jalan tol adalah 100 kpj. Sedangkan kecepatan minimal adalah 60 kpj.

Dan, ini yang cukup penting, batas kecepatan paling tinggi dan paling rendah itu harus dinyatakan dengan rambu lalu lintas. Sekali lagi, harus ada rambu lalu lintas yang dapat dilihat oleh pengguna jalan.

Setiap jalan ada penanggung jawab atau pengelolanya. Misal, jalan nasional dipegang oleh pemerintah pusat lewat kementerian pekerjaan umum dan perumahan rakyat (PUPR). Dan, perusahaan jalan tol yang memegang konsesi ruas jalan tertentu. Sedangkan jalan provinsi oleh pemerintah provinsi dan jalan kabupaten kota oleh pemkab dan pemkot.

Merekalah yang mestinya menyiapkan rambu-rambu tersebut. Seingat saya, belum banyak rambu yang menegaskan tentang batas kecepatan maksimal, bahkan di kota tempat saya tinggal, yakni di Jakarta. Kecuali di jalan tol yang memang cukup lengkap rambu mengenai batas kecepatan.

Semoga para pemda maupun kementerian PUPR dapat lebih antusias dalam menyediakan rambu batas kecepatan maksimal atau minimal. Tentu saja dalam kerangka besar, yakni demi keselamatan seluruh pengguna jalan.

Kita tahu bahwa kecepatan tinggi dapat memicu kecelakaan lalu lintas jalan. Saat ngebut, pengendara sulit mengendalikan tunggangannya terutama dalam mengantisipasi situasi tertentu. Fakta memperlihatkan bahwa ngebut menyumbang sekitar 13% terhadap kecelakaan lalu lintas jalan. Setiap hari, setidaknya 30-an kasus kecelakaan yang dipicu ngebut. Ngeri kan?

Oh ya, aturan soal batas kecepatan maksimal yang dibuat oleh SBY maupun Jokowi sebenarnya tidak baru-baru amat. Sejak zaman Soeharto jadi presiden pun sudah diatur. Bahkan, kecepatan maksimal di era Soeharto dibolehkan 100 kpj, termasuk buat sepeda motor.

Nah, berbeda dengan era Soekarno yang memang peninggalan aturan zaman penjajahan Belanda. Stadblaad 1899 No 303 pada 1 Januari 1900 mengatur batas kecepatan maksimal kendaraan adalah 45 kpj.

Belanda sudah mengatur batas kecepatan di jalan bagi negeri yang dikuasainya sejak 117 tahun lalu. Seiring derasnya pertumbuhan teknologi kendaraan dan teknologi pembangunan jalan yang berkeselamatan, lalu batas kecepatan juga meningkat. Jika merujuk angka 45 kpj pada 1900 dan angka 100 kpj pada 2017, artinya batas kecepatan maksimal melonjak sekitar 122%. Hemmmm….(edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: