Skip to content

Fakta Mencengangkan Saat Jeng Patrol Geruduk RHK

7 Januari 2017

jeng-patrol-2016-rhk-bogor1
PERNAHKAH Anda melihat marka jalan berwarna merah bertuliskan RHK dan bergambar sepeda motor? Lalu, pernahkah Anda berjumpa Jeng Patrol, perempuan bertubuh molek berambut sebahu?

Kalau pertanyaan pertama, dapat dipastikan banyak yang sudah menjumpainya. Sedangkan pertanyaan kedua, kesempatannya sangat langka. Iya kan?

Nah, RHK adalah kependekan dari ruang henti khusus, sedangkan gambar sepeda motor untuk menegaskan bahwa area itu untuk pesepeda motor. Marka jalan ini dapat kita jumpai di sekitar Jakarta, seperti di Bogor dan Depok, Jawa Barat.

Sedangkan Jeng Patrol adalah tokoh yang selalu menghiasi layar kaca stasiun televisi Indosiar. Sosok ini hadir di sela tayangan Patroli, yakni sebuah program yang menyiarkan berita-berita seputar kriminal dan sosial. Jeng Patrol mengisi ruang masalah sosial, salah satunya, seputar lalu lintas jalan.

Lantas, apa fakta mencengangkan di balik aksi Jeng Patrol menggeruduk RHK?
Ceritanya begini.

Dalam tayangan Patroli, Jumat, 6 Januari 2017 siang, Jeng Patrol merangsek kawasan kota Bogor. Fokus kali ini adalah melihat sejauhmana perilaku pengguna jalan terhadap RHK motor.

Saat melihat sebuah mobil low multi purpose vehicle (MPV) berwarna perak berhenti di atas RHK, sang perempuan bergaun biru itu pun menghampiri. Kira-kira begini dialognya.

Jeng Patrol: Kenapa berhenti di sini?
Pria Pengemudi: Emang kenapa?

Jeng Patrol: Ini kan RHK motor.

Pria Pengemudi: Wah saya nggak tahu.

Jeng Patrol: Kalau ketahuan polisi bisa kena denda UU 22/2009 tentang LLAJ Rp 500 ribu.

Pria Pengemudi: Wow. Minta maaf deh.

Masih di area yang sama, seorang perempuan pengemudi low MPV juga nangkring di atas RHK. Perbincangannya kira-kira seperti ini.

Jeng Patrol: Kok berhenti di sini?

Perempuan Pengemudi: Kan memang mau jalan kesana.

Jeng Patrol: Ini kan RHK motor, mobil nggak boleh di sini.

Perempuan Pengemudi: Wah saya nggak tahu.

Jeng Patrol: Kalau ketahuan polisi bisa kena denda Rp 500 ribu karena melanggar UU.

Perempuan pengemudi: Maaf nggak tahu.

Jeng Patrol: Janji yah tidak diulang.

Perempuan Pengemudi: Janji.

Fakta ini memperlihatkan bahwa pengemudi tidak tahu tentang marka jalan RHK motor. Padahal, pengemudi tadi warga kota setempat yang notabene amat mungkin setiap hari melintas di jalan itu. Atau, memang sosialisasi tentang RHK motor belum maksimal sehingga banyak pengguna jalan yang tidak memahami.
Jangan-jangan, supaya aman, bilang aja nggak tahu, beres. Eh, tapi itu pemikiran jahat.

Pastinya, fakta ini bagi saya mencengangkan karena RHK motor di kota Bogor sudah lama ada. Bahkan, saat pertamakali saya melihat pada 2013, sosialisasi di pertigaan atau perempatan jalan yang memasang marka itu cukup gencar. Sosialisasi juga dilengkapi dengan rekaman suara mengenai RHK yang diputar berulang-ulang dengan pengeras suara. (edo rusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: