Skip to content

Near Miss di Belakang Angkot Jakarta

5 Januari 2017

angkot-kwk-jakbar

BAGI yang pernah mengalami near miss alias nyaris kecelakaan pasti faham. Perasaan campur aduk. Ada kesal, juga ada perasaan bersyukur kecelakaan tidak sampai terjadi. 

Pemandangan yang saya jumpai kali ini agak berbeda. Oh ya, kala itu, awal Januari 2017 siang, di pinggiran Jakarta yang lalu lintas jalannya cukup padat.

Kejadian bermula saat sebuah angkutan kota (angkot) berjalan melambat. Posisi saya di belakang angkot. Di depan saya ada satu pesepeda motor. 

Waktu itu saya menduga ada sesuatu yang membuat angkot melambat, bahkan nyaris berhenti. Laju kendaraan saya pun ikut saya perlambat, tapi pesepeda motor di depan saya justeru berancang-ancang mendahului angkot.

Benar saja. Dari sisi kiri bagian depan angkot muncul dua pesepeda motor. Satu dari kedua pesepeda motor tadi mengerem sebisanya. Walau agak oleng, tabrakan pun akhirnya dapat dihindari. Wajah sang pengendaranya tampak berang. Matanya mendelik. Sedangkan kawannya, berteriak melontarkan sumpah serapah seraya meraung-raungkan knalpot nyaringnya. 

Entah karena merasa bersalah, sang pesepeda motor yang mendapat tumpahan emosi itu terus melaju, tidak menimpali. Atau, barangkali dia merasa berisiko menghadapi luapan emosi pengendara yang nyaris diciumnya.

Rasa bersalah bisa jadi muncul mengingat semestinya tidak mendahului ketika kendaraan di depan berhenti sekonyong-konyong. Amat mungkin berhentinya angkot akibat adanya sesuatu, seperti pedestrian yang menyeberang jalan. Atau, itu tadi, ada kendaraan lain yang hendak melintas. 

Kehadiran pedestrian atau motor tadi tidak terlihat oleh kami yang ada di belakang angkot. Praktis, pilihan bijak adalah mengurangi kecepatan dan sabar sejenak di belakang angkot. 

Oh ya, kedua pesepeda motor yang muncul tiba-tiba dari kiri depan angkot saya taksir berusia belasan tahun. Selain tidak memakai helm, keduanya memakai celana pendek dan sandal jepit. (edo rusyanto)

Iklan
One Comment leave one →
  1. 5 Januari 2017 11:15

    wah, memang pilihan terbaik adalah bersabar. jika tidak mampu bersabar resikonya fatal. apalagi di jalanan Jakarta, malaikat maut ada disepanjang jalan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: