Skip to content

Pengalaman Pertama di Jalur Sepeda dan Pedestrian Kota Bogor

3 Januari 2017

jalur-sepeda-bogor4

KOTA Bogor punya kisah tersendiri. Perjalanan bangsa Indonesia juga tak bisa dipisahkan dari kota penyangga Jakarta itu.

Ada Istana Bogor yang kerap dipakai Presiden RI untuk menggulirkan roda pemerintahan. Mulai dari zaman Presiden Soekarno, Soeharto hingga Joko Widodo.

Lalu, di kota yang sama juga terdapat Kebon Raya Bogor yang dikenal hingga mancanegara. Di kebon ini terdapat sejumlah tumbuhan langka dan berumur sangat tua. Selain itu, terdapat kampus pencetak sarjana pertanian, yakni Institut Pertanian Bogor (IPB). Bogor patut menempati posisi penting bagi Nusantara.

Kota di provinsi Jawa Barat ini juga terus berbenah. Penataan arus lalu lintas jalan juga tak luput dari perhatian. Marka dan rambu jalan hingga fasilitas bagi pedestrian ikut ditata. Walau belum sempurna, ada niat untuk memenuhi amanat Undang Undang (UU) No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). UU itu mewajibkan pemerintah menyediakan fasilitas bagi pedestrian.

Penghujung 2016, saya sempat singgah ke sekitar Kebon Raya, persisnya di Jl Djuanda yang membentang cukup lebar dan mulus. Pemandangan yang menyita perhatian saya adalah fasilitas pedestrian berupa trotoar dan fasilitas pesepeda kayuh.

Trotoar yang ada di kanan dan kiri jalan itu setiap mulutnya diberi setidaknya tiga tiang beton kokoh. Kehadiran tiga tiang itu menghambat kendaraan bermotor melintas di atasnya, khususnya sepeda motor.

Jalur sepeda juga tampak nyaman. Selain dilengkapi marka jalan, juga terdapat sejumlah rambu. Tampak mudah terlihat itu adalah jalur khusus pesepeda yang letaknya sebagian berdampingan dengan jalur pedestrian. “Sekarang enak, jalan kaki jadi lebih nyaman,” kata seorang warga, saat berbincang dengan saya, Sabtu, 31 Desember 2016 sore.

trotoar-kota-bogor-2016b
Terkait fasilitas pedestrian, data yang saya peroleh menyebutkan bahwa tahun 2015, pemerintah kota (Pemkot) Bogor menggelontorkan dana cukup banyak. Misal, untuk pembangunan jembatan penyeberangan orang diguyur Rp 2 miliar. Lalu, untuk pemeliharaan jembatan penyeberangan orang sebesar Rp 45 juta. Sedangkan untuk pemeliharaan jalur pejalan kaki, jalur pesepeda, dan tempat parkir sepeda digelontorkan Rp 150 juta.

Entah kondisi jalur pedestrian di luar Jl Djuanda. Khusus di jalan pusat bisnis dan pemerintahan kota Bogor itu sih tergolong nyaman dan aman. Sedikit kelemahan, tapi amat mengganggu adalah tidak berfungsinya tombol lampu penyeberangan jalan yang terletak persis di samping kantor Walikota Bogor. Kapan diperbaiki pak? (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: