Skip to content

Jabodetabek Pantas Mengandalkan Kereta

27 Desember 2016

tiket-cl-jabodetabek

COBA tebak, angkutan umum massal apa yang bisa mengangkut 700 ribu penumpang dalam sehari di Jakarta dan sekitarnya?

Ya. Kereta. Ular besi inilah yang mampu mengangkut lebih banyak penumpang dibandingkan jenis angkutan lain di Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Tarif tiketnya yang amat terjangkau kebanyakan masyarakat membuat angkutan yang satu ini menjadi amat digandrungi.

“Perbandingan ongkos yang saya keluarkan jauh lebih murah naik kereta. Naik bus Rp 20 ribu sekali jalan, sedangkan naik kereta saya bisa lima kali jalan dengan biaya yang sama,” tutur Gloria, kita sapa saja demikian, ketika berbincang dengan saya di Jakarta, baru-baru ini.

Di sisi lain, waktu tempuh yang dibutuhkan kereta jauh lebih cepat dibandingkan dengan menggunakan bus. Maklum, tempat tinggal Gloria di kawasan Tangerang, Banten sedangkan kantor tempatnya bekerja di kawasan Jakarta Selatan.

Kolega saya yang lainnya punya pengakuan yang nyaris serupa. Sandy, kita sebut saja begitu, tinggal di kabupaten Bogor. Setiap hari dia menggunakan kereta sebagai moda transportasi dari rumah ke kantor dan sebaliknya. “Kereta betul-betul membantu, apalagi sekarang ada yang sampai jam sebelas malam,” ujar dia saat berbincang dengan saya, di Jakarta, belum lama ini.

Gloria-gloria lain dan Sandy-sandy lain cukup banyak. Sekalipun, para penglaju di Jakarta dan sekitarnya yang menggunakan angkutan umum jumlahnya terus menyusut. Survey JUTPI menyebutkan, pada 2002, pengguna angkutan umum sekitar 42% dari total perjalanan, anjlok menjadi 20% pada 2010. Sebaliknya, pengguna kendaraan pribadi melonjak dari 33% menjadi 50%.

Ironisnya lagi, kendaraan pribadi merupakan kontributor terbesar kendaraan yang terlibat kecelakaan lalu lintas jalan. Komposisinya lebih dari 60%. Hal itu tak semata di Jakarta, tapi juga secara nasional.

Oh ya, data Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) menyatakan, jumlah perjalanan di Jabodetabek tahun 2015 mencapai 47,5 juta per hari. Ironisnya, mayoritas pergerakan orang itu masih menggunakan kendaraan pribadi, baik itu mobil maupun sepeda motor. Tak heran bila lalu lintas jalan di Jakarta dan sektiarnya diwarnai kemacetan. Terlebih di Jakarta, kini kemacetan tak semata di tengah kota, tapi juga di pinggiran kota.

pergerakan-jabodetabek_bptj
Kini, Jakarta terus berbenah dengan membangun mass rapid transit (MRT) berbasis rel dan kereta ringan (light rail train/LRT). Keduanya merupakan proyek pemerintah pusat yang diharapkan ikut mencairkan kemacetan lalu lintas jalan, sekaligus mengakomodasi hak bermobilitas warga. Khusus LRT, selain besutan pemerintah lewat konsorsium BUMN PT Adhi Karya Tbk, juga ada proyek LRT besutan Pemprov DKI Jakarta melalui PT Jakpro.

Tentu saja kehadiran kereta yang berbasis rel, bakal lebih lengkap jika diperkuat dengan angkutan berbasis jalan seperti bus. Angkutan umum massal bus juga menjadi andalan warga Jakarta dan sekitarnya. Di luar kereta, jenis angkutan ini merupakan penyumbang terbesar dalam mengangkut penumpang.

Kalau melihat besaran jumlah penumpang yang diangkut, tampaknya Jakarta dan sekitarnya patut mengandalkan kereta. Setuju? (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: