Skip to content

Galaknya Para Pelanggar di Jalan Raya

14 Desember 2016

spanduk-langgar-laka3

WAJAH Sugianto, kita sapa saja demikian, tersenyum kecut. Dia menceritakan bagaimana harus ekstra hati-hati menghadapi pelanggar aturan di jalan raya Jakarta.

“Saya dibentak-bentak dan mobil saya dipukul,” sergah pria muda itu saat berbincang dengan saya di Jakarta, belum lama ini.

Dia menjelaskan, saat itu, saat melaju di tengah keramaian lalu lintas jalan di Jakarta Selatan, dia dikagetkan oleh pesepeda motor yang berzig-zag ria. Aksi sang pesepeda motor itu memotong jalan Sugianto. Sontak, dia membunyikan klakson.

Rupanya sang pesepeda motor itu tak terima. Dia marah dan melakukan seperti yang tertera di awal tulisan ini.

“Saya nggak mau kalah, saya bentak lagi sambil bilang, ayo sini, ulangi kelakuan mu biar saya tabrak,” tukas Sugianto kepada pesepeda motor tadi.

Apa yang terjadi?

Menurut Sugianto, akhirnya sang pesepeda motor tadi tidak memperpanjang persoalan. Si penunggang kuda besi tadi langsung pergi begitu saja.

Pengalaman Sugianto bukan satu-satunya. Banyak hal serupa dialami oleh pengguna jalan yang lain, salah satunya saya. Kejadian yang tak pernah saya lupakan, yakni berhadapan dengan pelawan arus yang galaknya luar biasa.

Suatu siang di sudut jalan pemukiman di pinggiran Jakarta, saya melaju dengan kecepatan normal. Speedo meter menunjukkan angka berkisar 40-50 kilometer per jam (kpj). Namun, tiba-tiba muncul pesepeda motor yang melawan arah. Kehadirannya mengagetkan karena muncul dari balik mobil yang sedang terparkir di bahu jalan.

Sang pelawan arah bukannya meminta maaf, justeru memasang wajah garang. Matanya melotot dan tatapannya tajam. “Bego lu,” teriak dia, sambil terus melaju.

Pengalaman Sudina lain lagi. Pengemudi angkutan kota (angkot) itu menceritakan bagaimana galaknya sang pelanggar aturan di jalan. “Waktu itu angkot saya sedang jalan pelan karena ada penumpang mau turun, tapi pesepeda motor di belakang saya malah bunyiin klakson keras-keras,” tutur pria muda itu.

Belum selesai. Sang pesepeda motor tiba-tiba menghampiri bagian kanan angkot, persis di samping pengemudi. “Dia marah-marah dan ngatain bego. Nah, yang bikin saya marah adalah dia mukul body angkot saya,” sergahnya.

Sudina naik pitam. Dia pinggirkan mobil sambil membawa kunci baut mobil. Emosinya sudah meledak dan yang ada di otaknya adalah memberi pelajaran orang yang memukul body mobilnya. “Saya teriak, kalau berani sini, jangan mukul mobil orang. Untung aja dia kabur, kalau nggak bisa panjang urusannya. Tapi, setelah dipikir saya nyesal juga. Kalau sampe pukul-pukulan bisa rugi semuanya,” tambah dia.

Ya. Akhirnya kesabaran pengguna jalan memang harus dipertebal. Tentu saja sambil terus tetap waspada. Para pelanggar aturan di jalan sering memancing emosi. Kalau emosi sudah tak terkendali suasana bisa runyam.

Di sisi lain, polisi bilang, pelanggaran kerap kali mengawali terjadinya kecelakaan lalu lintas jalan. Kalau ini terjadi situasi bisa lebih buruk lagi. Entah kenapa, para pelanggar masih saja muncul di jalan raya kita. (edo rusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: