Skip to content

Mengintip Bus di Kota Jakarta

13 Desember 2016

bus-taksi-dan-motor-di-jkt3

SAAT ini, bus kota menjadi salah satu transpotasi umum pilihan warga kota Jakarta. Sejumlah orang yang saya kenal malah mengandalkan angkutan ini untuk berangkat ke tempat kerja. Begitu juga sebaliknya.

Penumpang berbaur satu dengan yang lainnya. Mereka tak saling kenal, namun menyatu demi tujuan yang sama, yakni bermobilitas.

Tak peduli berdesak-desakan bercampur dengan beragam aroma. Apalagi ketika jumlah kursi sudah tak mampu menampung, banyak penumpang yang berdiri. Para penumpang menikmati keberagaman tadi secara demokratis.

Banyak cara untuk melewatkan waktu di dalam bus. Ada yang sambil mendengarkan musik. Lalu, ada yang sambil mengutak-ngatik ponsel. Bahkan, ada yang sambil memejamkan mata. Walau, ada juga orang yang jahil seperti kasus pelecehan seksual oleh pria kepada perempuan. Untuk kasus ini bahkan ada penumpang yang berani melaporkannya ke pihak berwajib.

Di Jakarta setidaknya ada dua jenis bus, yakni ukuran besar dan sedang. Mereka yang masuk kelompok besar maupun kecil dikelola oleh beberapa perusahaan berbeda. Di luar angkutan umum, terdapat juga sejumlah bus yang dikelola instansi tertentu. Khusus yang ini hanya melayani pegawai instansi masing-masing terutama untuk berangkat atau pulang dari kantor. 

Diluar bus-bus tadi, Jakarta juga punya bus sekolah. Bus khusus bagi pelajar berseragam itu diberi warna kuning mencolok dan melayani secara gratis. Jumlahnya memang belum sebanyak bus angkutan umum, maklum bus ini hanya melintas di rute tertentu di area yang ada sekolahnya. 

Bus angkutan umum melayani trayek tertentu. Kebanyakan melayani dari terminal ke terminal lainnya di berbagai sudut kota Jakarta. Ada juga yang dari kota satelit Jakarta dan sebaliknya. Bus antar kota antar provinsi (AKAP) ini punya ketentuan tarif tersendiri. Besarannya tentu saja berbeda alias lebih mahal karena jarak tempuhnya juga lebih jauh. Tarif bus sedang dan bus tertentu seperti Trans Jakarta sekitar Rp 3.500 per orang.

Pernah saya naik bus sedang, yakni Kopaja dan Metro Mini. Mereka mengutip ongkos dengan besaran yang sama untuk semua jarak. Berbeda dengan angkutan kota (angkot) yang mematok tarif terbesar untuk jarak yang terjauh. Semakin dekat jarak tempuh, ongkosnya lebih rendah.

Oh ya, khusus bus Trans Jakarta yang diperkenalkan sejak 2004, memiliki jalan sendiri (busway). Di beberapa koridor saja bus Trans Jakarta berbaur dengan kendaraan bermotor lainnya, seperti di koridor menuju terminal Kampung Rambutan yang melintas di Jalan Raya Bogor, Jakarta Timur.

Para penumpang Trans Jakarta hanya bisa turun dan naik di halte yang telah ditetapkan oleh sang penyelenggara transportasi. Berbeda dengan bus non Trans Jakarta yang bisa naik atau turun di sembarang tempat, walau tak jarang berisiko memicu terjadinya insiden, bahkan kecelakaan lalu lintas jalan.

Kehadiran bus kota belum mampu mengakomodasi seluruh kebutuhan mobilitas warga Jakarta. Karena itu, bus kota dilengkapi dengan angkutan umum lain seperti angkot, taksi hingga angkutan sewa berbasis aplikasi.

Tentu saja kendaraan yang dominan masih sepeda motor. Mobilitas warga Jakarta dan sekitarnya masih lebih banyak mengandalkan si roda dua. Alasannya cukup klasik, yaitu lebih mangkus dan sangkil. (edo rusyanto)

Iklan
One Comment leave one →
  1. 13 Desember 2016 17:10

    Berarti kenyamanan bus masing kurang ya? itu mungkin alasannya kenapa warga jakarta lebih menggunakan roda dua? kalau dilihat-lihat harga tarif bus relatif mudah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: