Lanjut ke konten

Melanggar Bersama-sama Kian Berani

4 Desember 2016

garis-setop-dilibas-cawang-2016b

SAAT saya mengunggah foto pesepeda motor yang berhenti tertib di belakang garis setop di media sosial, ada yang terperangah. Dia bertanya, dimana lokasi pengambilan foto?

“Biasanya mereka (pesepeda motor) berhenti di zebra cross,” ujar Darmaningtyas, pemerhati transportasi mengomentari unggahan saya di lini masa twitter, beberapa waktu lalu.

Darmaningtyas adalah salah satu pemerhati transportasi yang gigih mendorong lalu lintas jalan yang humanis. Salah satunya, mendorong yerwujudnya angkutan umum massal yang aman, nyaman, selamat, tepat waktu, terjangkau, terintegrasi, dan ramah lingkungan.

Bisa jadi komentar sejenis ada di benak warga dunia maya maupun dunia nyata. Mereka bingung ada pesepeda motor yang tertib, mengingat setiap hari lebih banyak melihat pelanggaran ketimbang yang tertib. Herannya, pelanggaran yang dilakukan bersama-sama itu didiamkan sehingga dianggap lumrah. Aneh.

Oh ya, garis setop adalah marka jalan penanda batas terdepan kendaraan yang berhenti di perempatan atau pertigaan jalan. Artinya, jika melewati garis itu sang pelaku telah melanggar aturan.

UU No 22/2009 tentang LLAJ menegaskan, pelanggaran atas marka dan rambu jalan dapat didenda maksimal Rp 500 ribu. Atau, pidana penjara maksimal dua bulan.

Selain garis setop, di area perhentian juga biasanya terdapat marka jalan zebra cross, yakni tempat menyeberang jalan para pedestrian.

Pemandangan yang sering saya jumpai di Jakarta, marka jalan itu diinjak-injak. Pelanggaran dilakukan beramai-ramai. Barangkali di benak pelanggar tersirat bahwa jika dilakukan bersama-sama, tidak ditindak oleh petugas. Dan, ironisnya, mayoritas pelanggaran itu memang benar-benar tidak ditindak.

Padahal, jargon yang sering dilontarkan adalah kecelakaan kerap kali diawali oleh pelanggaran aturan di jalan. Artinya, ketika melanggar aturan di jalan bukan mustahil memicu terjadinya kecelakaan. Faktanya juga demikian, sekitar 29% pemicu kecelakaa

Tapi, bukan mustahil diantara pelanggar itu memang ada yang benar-benar tidak tahu aturan soal marka dan rambu jalan. Mereka sekadar ikut-ikutan. Repotnya, mereka yang tahu aturan justeru pura-pura tidak tahu, bahkan tidak peduli merampas hak orang lain, yakni pedestrian.

Adegan demi adegan saling merampas hak sesama pengguna jalan seakan mempertontonkan watak keseharian kehidupan di masyarakat. Tak peduli nasib orang lain, memanipulasi hak orang lain, hingga menyuap penegak keadilan. Kalau sudah begitu mereka yang memiliki kekuatanlah yang berkuasa. (edo rusyanto)

One Comment leave one →
  1. nefanka permalink
    4 Desember 2016 14:00

    Saya malah pernah harus bersusah payah melewati sebuah tikungan di kalibata karena dari arah berlawanan ratusan sepeda motor melawan arus. Sejak itu setiap lihat sepeda motor dalam jumlah banyak seperti melihat hama yang bakal bikin persoalan. Susah saatnya peseda motor ditertibkan sebelum berubah jadi kerusuhan, karena kejengkelan terhadap peseda motor makon hari, makin memuncak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: