Skip to content

Near Miss di Kawasan Taman Mini

3 Desember 2016

taman-mini-lalin-2016b

INSIDEN di jalan raya Jakarta seakan tak pernah surut. Seorang perwira menengah polisi lalu lintas, bahkan pernah berujar, insiden dan kecelakaan sulit dibendung.

Dia beralasan bahwa ketika penggunaan kendaraan bermotor terus bertambah, petaka jalan bisa terjadi setiap saat. Ironisnya, faktor perilaku pengendaralah yang banyak makan korban. Khususnya, perilaku ugal-ugalan alias melanggar aturan.

Coba tengok sekeliling kita, ada benarnya fakta opini itu. Walau, fakta data juga berbicara hal serupa. Kalau sudah begini, hal yang mesti maksimal adalah berupaya memangkas fatalitas kecelakaan lalu lintas. Sekali lagi, berupaya secara maksimal.

Kejadian yang saya saksikan di kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, baru-baru ini, seakan menguatkan hal itu. Perilaku ugal-ugakan dapat memicu insiden.

Bagaimana tidak, di tengah sesaknya kendaraan bermotor mengantre di lampu merah, tiba-tiba hadir sang penerobos. Ceritanya begini.

Laju kendaraan dari arah kami berhenti karena lampu pengatur lalu lintas jalan berwarna merah. Di pertigaan itu jumlah kendaraan bermotor tumpah ruah. Mereka yang berhenti sabar menanti. Dari arah kanan kami, arus kendaraan melaju normal karena sedang kebagian lampu berwarna hijau. Di barisan depan lajur kami berjejal belasan sepeda motor. Boleh jadj ada yang memang sudah tidak sabar menanti pergantian warna lampu.

Tak lama kemudian lampu berganti menjadi hijau. Tiba-tiba, dari arah yang semestinya berhenti, menyelonong seorang pesepeda motor. Suara klakson pun menjadi riuh rendah, bersahut-sahutan. Saya memaknainya sebagai suara pengingat agar tidak terjadi kecelakaan di jalan.

Belum lagi usai, dalam hitungan detik tiba-tiba muncul mobil jenis hatchback. Dia melaju agak kencang dengan membunyikan klakson keras-keras. Entah apa maksudnya, barangkali minta diprioritaskan untuk lewat. Atau, mengingatkan agar yang lain minggir agar tidak terjadi benturan.

Apa pun itu, insiden sudah terjadi. Nyaris (near miss) terjadi kecelakaan. Pesepeda motor yang ada di barisan depan menumpahkan kekesalan tak semata lewat klakson nyaring, tapi juga sumpah serapah. Bahkan, sepintas saya lihat ada yang melemparkan sesuatu ke arah mobil sang penerobos lampu merah. Walai, sepintas juga terlihat bahwa yang dilempar adalah bukan benda berbahaya.

Fakta tadi, insiden yang terjadi, nyaris melebar. Tapi, tampaknya kesabaran masih menaungi para pengguna jalan. Kemampuan menahan amuk masih lebih unggul ketimbang emosi meledak-ledak.

Kian nyata bahwa musuh terbesar bukan ulah orang lain, melainkan bersemayam di dalam diri. Termasuk ketika kita di jalan raya. (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: