Skip to content

Jakarta Siaga 112

1 Desember 2016

jakarta-112-a

LEBIH dari 35 tahun saya tinggal di kota Jakarta. Banyak cerita yang datang silih berganti, termasuk tentu saja kehidupan di jalan rayanya.

Saat masih bocah sekolah dasar di pinggiran Jakarta Selatan, tak pernah terlintas menunggang sepeda motor. Maklum, tahun 1970-an keluarga yang punya sepeda motor bisa dihitung jari. Jangan dibandingkan dengan saat ini yang setiap keluarga bisa punya lebih daru satu unit. Dan, anak usia sekolah dasar pun berseliweran naik sepeda motor.

Begitu juga dengan angkutan umum Jakarta yang bergerak amat dinamis. Mulai dari era bus tingkat kelolaan PPD hingga bus gandeng berpendingin udara. Kini, sekalipun ada, bus tingkat hanya khusus angkutan pariwisata.

Dari sisi ongkos, mulai dari zaman tarif bus masih Rp 100 per orang hingga kini menjadi Rp 3.500. Bahkan, sejak 2004 diperkenalkan Trans Jakarta yang memiliki jalur sendiri.

Apalagi soal hiburan, perkembangannya amat pesat. Mulai dari zaman layar tancap hingga kini bioskop dengan sistem pengeras suara yang canggih. Mulai dari bioskop yang membolehkan penonton merokok dan pedagang asongan wira-wiri, hingga kini bioskop yang menyediakan cafe dengan aneka kudapan dan mesin hiburan.

Semua berkembang seiring derap pertumbuhan ekonomi kota. Lihat saja harga hunian yang bisa mencapai Rp 15 miliar per unit. Atau, beragam kendaraan bermotor mulai dari yang harganya belasan juta rupiah hingga miliaran rupiah per unit.

Jakarta sudah menjadi metropolitan dan sesak dengan penduduk yang sudah menyentuh tak kurang dari 9,5 juta jiwa. Saking dirasa kurang lahan, digulirkanlah proyek menguruk teluk untuk membuat 17 pulau buatan. Jangan kaget, hanya untuk menguruk saja butuh sekitar Rp 5 triliun.

Di sudut lain, kemajuan teknologi informasi juga membalut kota yang kini berusia 487 tahun itu. Pengaturan kota menjadi lebih praktis. Gubernur bisa menyaksikan langsung berbagai sudut kota lewat bantuan kamera pengawas dan daring.

Warga juga biaa menyampaikan masukan, keluhan, lewat daring. Bahkan, pola belanja melalui daring kian digemari. Tinggal pencet aplikasi sana-sini barang yang dibeli sudah tiba di depan rumah. Termasuk, untuk urusan angkutan, aplikasi di genggaman tangan sudah bisa mendatangkan kendaraan yang siap mengangkut sesuai tujuan yang diinginkan.

Kini, Ibukota Republik Indonesia itu menyediakan sistem komunikasi canggih berupa nomor panggilan terpadu dalam satu nomor. Mereka menyebutnya Nomor Tunggal Layanan Darurat Jakarta Siaga 112.

Nomor telepon tunggal itu dapat dimanfaatkan warga kota untuk banyak hal. Mulai dari urusan darurat medis, kebakaran, bantuan keamanan hingga informasi kecelakaan lalu lintas jalan.

Oh ya, bila menelepon dari ponsel, ternyata tidak perlu menggunakan kode area Jakarta, yakni 021. Penelepon bisa langsung menekan tombol 112.

Ya. Jakarta memang megah. Walau, disana-sini, kita menemui sejumlah kekurangan. Saking hebatnya Jakarta, orang pun berlomba-lomba menyorongkan diri untuk menjadi pemimpin provinsi dengan APBD sekitar Rp 70 triliun itu. (edo rusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: