Skip to content

Pengalaman Bikin SIM di Sampit Kalteng

30 November 2016

sim-keliling

TELEPON seluler (ponsel) saya berdering. Nomor pemanggil tidak tercatat di ponsel. Saya pikir panggilan dari para tele marketing.

“Apa kabar Do?” terdengar suara dari seberang sana, Senin, 28 November 2016 siang.

“Kabar baik. Siapa ini?” tanya saya

“Ini Yas, gue pake nomor daerah,” sergah dia.

Yas adalah kolega saya. Dia tinggal di pinggir Jakarta. Sama dengan saya.
Dia menjelaskan, nomor daerah dimaksud adalah nomor seluler yang dibelinya di kota tempat dia saat itu menelepon. Saat menelepon dia mengaku sedang di Sampit, Kalimantan Tengah. Maklum, bisnisnya adalah usaha perkebunan. Praktis perjalanan bolak-balik ke Kalimantan dilakoni.

Siang itu dia bukan mau cerita soal bisnis perkebunan. Justeru dia menyampaikan hal yang amat berbeda. “Ini orang gua, teman gua bikin SIM bolak-balik gagal di Sampit, Kalimantan Tengah. Udah tiga kali, tapi dia mau coba terus sampai berhasil,” ujar dia.

Padahal, kata Yas, orangnya itu harus menempuh perjalanan darat hampir seratus kilometer untuk ke kantor Polres. Butuh energi banyak hanya untuk membuat surat izin mengemudi (SIM). Sekalipun demikian bakal dicoba terus sampai berhasil. “Orang gua ini nggak mau pake jalan pintas. Dia ingin murni lewat tes dan ujian,” tambahnya.

Lantas, persoalan utamanya dimana? Gumam saya dalam hati.

Seakan membaca jalan pikiran saya, Yas menyerahkan telpon ke teman yang dia tadi ceritakan.

“Awalnya saya gagal saat tes tertulis, mas. Terus sayacoba lagi hingga dua kali baru deh lulus. Tapi, kali ini tes praktek, gagal,” ujar orangnya Yas.
Sekalipun begitu, dia mengaku akan terus mencoba hingga lulus dan memperoleh SIM. “Hanya saja, kok tidak diberitahu salahnya dimana agar kita bisa belajar,” keluh dia.

Banyak pernyataan serupa saya dengar sebelumnya. Mereka yang tidak lulus tes tertulis tidak tahu salahnya dimana. Mereka ingin tahu di soal mana saja salahnya sehingga bisa belajar lebih jauh.

tes-praktek-sim-c-motor_syahrir

Tes praktek ujian SIM motor (foto:instagram syahrir)

Secara umum, para peserta ujian tertulis SIM tidak mempelajari apa saja soal yang akan diuji. Bisa jadi karena tidak tahu mau belajar dimana. Sekalipun di daring terdapat soal-soal yang mirip, persoalannya belum semua masyarakat memiliki akses ke daring.

Begitu pula saat ujuan praktek. Banyak orang yang saya jumpai belajar secara otodidak. Saya juga awalnya otodidak.

“Saya nggak lulus ujian praktek SIM motor karena salah saat memutar lintasan seperti angka delapan,” papar kawannya Yas.

Oh ya, kawannya Yas harus menjalani semua tes layaknya bikin SIM baru karena lupa memperpanjang saat jatuh tempo. Aturan yang berlaku saat ini mewajibkan seseorang mengikuti proses bikin SIM baru jika tidak memperpanjang ketika masa berlakunya sudah habis sekalipun lewat satu hari.

Nah, kalau merujuk pada Peraturan Kapolri No 9 tahun 2012 tentang SIM, Ujian pada perpanjangan SIM hanya dilaksanakan ujian keterampilan melalui simulator. Walau, lebih banyak tanpa ujian praktek, cukup mengisi formulir, foto, dan membayar pungutan resmi, beres. Bahkan, sekarang dimudahkan lagi dengan tersedianya mobil SIM keliling serta ada yang di pusat perbelanjaan modern alias mal. (edo rusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: