Skip to content

Akhir Pekan Bersama Para Finalis SCA 2016

27 November 2016

sca-2016-penjuarian3
AKHIR pekan yang menyenangkan. Bagaimana tidak, kami bisa saling bersua dengan teman-teman komunitas penunggang kuda besi dari Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jadetabek). Tak hanya itu, kami juga saling berbagi.

Di luar gedung, udara Jakarta tampak cerah. Lalu lintas jalan ramai lancar. “Dari Depok hanya butuh 30 menit,” tutur Rudy, saat berbincang dengan saya di Graha Adira Insurance, Sabtu, 26 November 2016 pagi.

Gedung yang berlokasi di Jl MT Haryono, Jakarta Selatan itu menjadi tempat kami para juri Safety Campaign Award (SCA) 2016 berkumpul. Tentu saja hadir 10 finalis yang telah lolos tahap pertama dan selanjutnya dipilih menjadi tiga yang akan mendapat penghargaan. Tahun ini adalah kali ketiga SCA besutan Adira Insurance digelar.

“Total yang mengajukan proposal ke panitia ada 81 kelompok pengguna sepeda motor,” kata Faridha, panitia SCA 2016.

Sepuluh finalis kali ini datang bergelombang sesuai jadwal yang diberikan panitia pelaksana (panpel) SCA 2016. Mereka adalah Honda Street Fire Club Indonesia (HSFCI) Tangerang, Komunitas Suzuki Thunder (Koster) Indonesia, Pulsarian Bekasi (Kaliber), Suzuki Satria F 150 Club (SSFC) Depok, dan Sahid Tourism Riders Community (Stir).

Lalu, Tiger Rider Club (Tric) Jakarta, Yamaha Vixion Club Indonesia (YVCI) Cikarang, Verza Rider Community Indonesia (VRCI) Bekasi, Yamaha Matic Indonesia Community (YMIC) Jakarta, dan Yamaha R15 Club Indonesia (YRCI) Jakarta.

img-20161123-wa0004

Oh ya, para juri terdiri atas saya sendiri, lalu ada Ivan Virnanda, ketua Road Safety Association (RSA) Indonesia, AAn dari Global Devensive Driving Course (GDDC), dan Rudy Novianto, instruktur keselamatan jalan. Masing-masing juri memiliki spesialisasi penilaian, saya diminta dari aspek data factual kecelakaan dan korelasinya dengan kampanye keselamatan jalan. Lalu, Ivan dari sisi peran komunitas dalam kampanye. Sedangkan Rudy fokus pada bagaimana mekanisme kampanye para finalis. Aan, titik beratnya pada teknik berkendara yang aman dan selamat.

Selain para juri, hadir juga para mentor dari ke-10 finalis. Mereka berasal dari RSA Indonesia, Adira Insurance, dan jurnalis.

sca-2016-peserta-bahas-teknik2

Dalam penjurian, setiap finalis diberi kesempatan 30 menit yang mencakup 10 menit berupa paparan kegiatan yang sudah dilaksanakan dan 20 menit tanya jawab dengan para juri. Setiap juri mendapat waktu lima menit untuk bertanya. Sedangkan materi penilaian mencakup dampak dari kegiatan, luasan cakupan kegiatan, pemahaman keselamatan jalan (road safety), konsep keselamatan jalan, imbas pada anggota kelompok finalis hingga teknik menyampaikan presentasi.

“Bobot terbesar ada pada imbas dari kegiatan yang mereka lakukan,” papar Faridha yang juga ketua Panpel SCA 2016.

Serunya proses penjuarian terlihat dari materi tanya jawab. Sesekali mencuat senda gurau. Misal, ketika peserta menjawab pertanyaan teknik berkendara sepeda motor yang aman dan selamat (safety riding) yang dilontarkan Aan. “Teknik berbelok ada dua, yakni ke kiri dan ke kanan,” jawab salah satu kelompok finalis.

Oh ya, materi yang dipaparkan oleh para finalis beragam. Maklum, mereka mengambil topik yang cukup menarik, yaitu mencakup bahaya melawan arus, pentingnya pemakaian helm, dan bahaya berponsel ketika bersepeda motor.

“Kami menyasar ibu-ibu di perkampungan. Ada yang sebelum penyuluhan tidak pernah pakai helm sama sekali, kini usai pelatihan, setidaknya dalam seminggu, tiga hari sang ibu memakai helm,” papar bro Willy, perwakilan Tric, dalam tanya jawab.

Lain lagi cerita bro Rully dari Koster. Dia bercerita, ketika melakukan aksi diam soal bahaya melawan arus, menjumpai banyak pengguna jalan yang arogan. Para pelawan arus lalu lintas justeru lebih galak. “Kami tidak bisa apa-apa, karena sifat kami adalah mengajak, bukan menindak. Tapi, jumlah pelanggaran menurun dari seribuan kasus menjadi berkisar 700-900 kasus di area tempat kami aksi kampanye,” tutur dia.

Sedangkan kampanye bahaya berponsel ketika bersepeda motor banyak menyasar kepada para ojek sepeda motor berbasis aplikasi. “Dari pengamatan kami, banyak yang berponsel sambil naik motor, entah mau ngambil order atau melihat peta,” tutur bro Agus dari HSFCI Tangerang.

sca-2016-juri-dan-mentor3

Bangga melihat bagaimana teman-teman komunitas pesepeda motor dengan gigih berkampanye keselamatan jalan dalam ajang SCA 2016. Mereka benar-benar antusias dan mempersiapkan kampanye dengan cukup matang. Bahkan, sampai ada yang mampu menelorkan komitmen dari manajemen perusahaan tempat obyek kampanye. “Ada komitmen dari perusahaan tempat kami berkampanye, perusahaan mendukung pelaksanaan safety riding dengan mewajibkan karyawannya disiplin termasuk memakai helm saat bersepeda motor,” kata bro Arif, dari YVCI Cikarang.

Ya. SCA memang hadir atas dasar kepedulian untuk mengajak komunitas pesepeda motor menularkan isu keselamatan jalan di kalangan anggota mereka maupun masyarakat. Selain, tentu saja mengajak komunitas lebih mempertajam kampanye yang dilakukan agar lebih berdampak kepada target kampanye. Sebuah akhir pekan yang mengasyikan. (edo rusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: