Skip to content

Lima Perilaku Mencemaskan di Jalan Raya

24 November 2016

busway-motor-2a
ORANG Indonesia sejak lama dikenal ramah dan murah senyum. Bahkan, semangat gotong royongnya pun kerap dibanggakan. Menjunjung tinggi adat istiadat sebagai pilar kehidupan masyarakat.

Waktu terus berputar. Kota-kota bertumbuh. Jumlah penduduk bertambah, bahkan berlipat-lipat. Kini, tak kurang dari 250 juta orang menghuni bumi Nusantara.
Kendaraan bermotor hadir di kota dan desa. Sepeda motor menjadi primadona. Tak kurang dari 120 juta kendaraan bermotor mendampingi penduduk di seantero wilayah.

Praktis, pergerakan orang di jalan raya pun kian meruyak. Lihat saja jalan-jalan di kota. Jam-jam sibuk dijejali oleh orang yang berlalu lalang. Mulai untuk urusan mencari nafkah hingga untuk beranjangsana.

Beberapa tahun terakhir kita dipertontonkan oleh beragam perilaku pengguna jalan. Buahnya beragam. Ada pelanggaran aturan dan ada kecelakaan lalu lintas jalan. Ironisnya, pemicu kedua terbesar, yakni sekitar 29% adalah perilaku berkendara yang tidak tertib alias melanggar aturan.

Tidak tertibnya cara berlalulintas terjadi bukan sekonyong-konyong. Bisa jadi dilandasi oleh ketidaktahuan akan aturan. Boleh jadi juga karena ketidaktrampilan berkendara. Paling memprihatinkan, tentu saja perilaku yang tidak peduli dengan semua aturan yang ada.

Entah kenapa, beberapa tahun terakhir ini saya melihat ada lima perilaku berlalulintas jalan yang mencemaskan. Maksudnya, perilaku itu bukan saja bisa memicu gesekan sosial, tapi juga bukan mustahil memicu terjadinya kecelakaan.

1. Perilaku tidak sabar
Lunturnya kesabaran pengguna jalan dapat mendorong terjadinya pelanggaran aturan. Misal, karena sulit menghadapi kemacetan lalu lintas jalan, seorang pengendara menjadi sembrono. Marka dan rambu jalan dianggap hiasan sehingga mudah saja dilabrak.

2. Perilaku egois
Mementingkan diri sendiri bertolak belakang dengan jargon keselamatan milik bersama. Orang lain dianggap dianggap nomor kesekian. Dirinyalah yang lebih penting. Padahal, ketika terjadi apa-apa di jalan raya, orang lainlah yang akan membantu. Mustahil dirinya sendiri yang menolong jika terjadi petaka.

3. Perilaku arogan
Arogan atau sombong tak melulu dilakukan oleh mereka yang kuat secara politik, ekonomi, sosial atau hukum. Kadang, arogansi dipertontonkan oleh pengendara yang berjalan secara berkelompok. Semakin besar jumlah kelompoj tadi, kian mudah tergoda mempertontonkan kepongahan. Esensinya, arogansi bermuara pada hasrat diprioritaskan. Padahal, posisinya tidak genting, bahkan kadang juga tergolong tidak penting.

4. Perilaku intoleran
Ketika setiap pengguna jalan memiliki porsi masing-masing, perilaku intoleran tak jarang meremehkan pentingnya berbagi ruas jalan. Toleransi kepada pengguna jalan raya yang rentan kecelakaan mestinya dijadikan tradisi berlalulintas jalan. Bukan sebaliknya.

5. Merampas hak
Perilaku ini tergolong paling mencemaskan. Misal, sudah tahu zebra cross adalah hak pedestrian untuk menyeberang jalan. Namun, masih saja berhenti di atas marja jalan tersebut.

Sebagai bangsa timur kita semestinya mewariskan semangat sudi berbagi, termasuk di jalan raya. Toleransi sejatinya bisa dimulai dari keseharian ketika berlalu lintas jalan. Keadaban kita sebagai manusia tak semata menggunakan akal sehat, tapi juga hati nurani. (edo rusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: