Skip to content

Bersua dengan Para Penunggang Kuda Besi Hitam

20 November 2016

bmc-jaktim-2016_bmc
Cuaca Jakarta siang itu cerah berawan. Sudut tempat kami berkumpul di bilangan Kemayoran, Jakarta Pusat juga tampak sendu. Sekalipun matahari bersinar, gumpalan awan tampak sibuk mengintai.

November 2016 merupakan bagian dari musim penghujan. Walau demikian, kondisi itu tak menyurutkan semangat para penunggang kuda besi alias pesepeda motor untuk wira wiri.

Kehidupan jalan raya Jakarta dijejali dengan beragam kendaraan bermotor. Sudah barang tentu perilaku berlalu lintas jalannya pun aneka ragam. Pastinya, tiap hari, terjadi belasan kecelakaan lalu lintas jalan yang merenggut dua hingga tiga jiwa. Setiap hari.

Para penunggang kuda besi hitam yang berhimpun dalam Black Motor Community (BMC) Jakarta Timur punya jurus sendiri untuk membekali diri. Mereka mengajak saya bertukar pikiran soal berkendara aman dan selamat, khususnya keselamatan bersepeda motor yang kondang disebut safety riding.

“Kami ingin bikin kegiatan safety riding dalam acara ulang tahun keenam kami. Sebelum-sebelumnya kami belum pernah,” ujar bro Lubis dari BMC Jakarta Timur, saat berbincang dengan saya, di Jakarta, pertengahan November 2016 sore.

Ya. Sabtu, 19 November 2016 sore saya bersua dengan keluarga besar BMC Jakarta Timur dalam rangka ulang tahun mereka. Seperti penuturan bro Lubis, kegiatan kali ini amat berbeda karena salah satunya diisi dengan diskusi soal safety riding. Acara yang digelar di mal Mega Glodok Kemayoran (MGK), Jl. Angkasa Kav B-6, Kota Baru Bandar, Kemayoran, Jakarta Pusat itu pun mengalir dalam suasana bersahaja. Peserta duduk di pelataran mal seraya bertukar pikiran.

Butuh waktu sekitar 1,5 jam dari tempat tinggal saya ke MGK. Maklum, jarak dari kawasan Cibubur, Jakarta Timur ke Kemayoran tak kurang dari 28 kilometer (km). Namun, lelah dalam menempuh perjalanan terobati oleh antusiasme peserta. “Bagi saya memiliki SIM mutlak. Dan, sebaiknya mengikuti proses yang benar. Dengan punya SIM kita jadi lebih percaya diri waktu naik motor,” ujar seorang peserta berompi warna hitam.
bmc-jaktim-2016-spanduk3

Dia menanggapi fakta bahwa sekitar 56% pelaku kecelakaan lalu lintas jalan adalah mereka yang tanpa surat izin mengemudi (SIM). Sejatinya surat itu mencerminkan kompetensi seseorang dalam berkendara.

Mutlaknya memiliki SIM serupa dengan mutlaknya memakai helm saat bersepeda motor. Pemakaian helm mutlak untuk jarak sedekat apapun. Maklum, pesepeda motor yang tewas akibat kecelakaan dipicu oleh luka di kepala dan leher. Helm untuk melindungi kepala.

Apalagi, data Badan Kesehatan Dunia menyebutkan, berkisar 80-90% pesepeda motor yang tewas dalam kecelakaan akibat luka di kepala dan leher. “Saya juga baru tahu kalau helm ada kadaluarsanya,” ujar bro Dendi.

Kecelakaan tak hanya menyakitkan, tapi juga berdampak luas. Dampaknya bahkan bisa ke ranah hukum. Melihat tingginya keterlibatan sepeda motor dalam kecelakaan, yakni sekitar 70%, mau tidak mau mendorong pesepeda motor untuk melindungi diri.

“Kecelakaan juga menyakitkan. Saya pernah dirawat tiga hari di rumah sakit gara-gara kecelakaan ringan,” tutur lady bikers berompi hijau ala polisi.

Diskusi juga diselingi dengan pemberian kenang-kenangan bagi para peserta yang berkenan bertukar pikiran dan pengalaman. Menjelang petang sebelum adzan Maghrib, saya pun menyudahi diskusi kali ini. “Desember nanti kita diskusi lagi yah eyang,” ajak bro Condro dari BMC Jakarta Selatan.

Saya mengiyakan. (edo rusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: