Skip to content

Mabuk, Nabrak dan Berujung di Bui

18 November 2016

garis-polisi-awan1
SYSKA, kita sapa saja demikian, punya pengalaman tak terlupakan. Dia bersepeda motor usai menenggak minuman keras.

Pasalnya, kejadian yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya itu merugikan orang lain. Bahkan, menyebabkan orang lain yang ditabraknya meninggal dunia. Kecelakaan lalu lintas jalan senantiasa menyakitkan.

Peristiwa berawal ketika dia sedang bersepeda motor di jalan pemukiman. Malam itu dia melaju dalam kecepatan berkisar 40-50 kilometer per jam (kpj). Di depannya ada pesepeda kayuh. Disinilah petaka dimulai.

Upayanya mendahului sang pesepeda kayuh justeru berakibat fatal. Maklum, dirinya di bawah pengaruh minuman keras. Bukannya mendahului dengan aman dan selamat, yang terjadi justeru dia menabrak pesepeda kayuh tadi. Keduanya terjatuh. Sang pesepeda kayuh terluka dan meninggal dunia ketika dibawa ke rumah sakit.

Kecelakaan itu pun bergulir ke meja hijau. Upaya perdamaian dan permintaan maaf sekaligus pemberian santunan kepada keluarga korban menjadi hal yang meringankan di pengadilan. Namun, penyelesaian secara hukum terus bergulir.

Dia dibidik dengan Undang Undang (UU) No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ), khususnya pasal 310 ayat 4. Jaksa menuntutnya pidana penjara satu tahun lima bulan. Walau, akhirnya hakim memutuskan pidana penjara sebelas bulan.

“Saya tak ingin mengulangi lagi,” tutur dia.

Setuju. Kita mesti belajar dari pengalaman. Termasuk, tentu saja belajar dari pengalaman orang lain agar kedepan hidup dapat lebih baik.

Untuk urusan bersepeda motor, setiap pengendara tidak bisa bermain-main ketika melaju di jalan raya. Kondisi tubuh yang dipengaruhi minuman keras beralkohol dapat merusak konsentrasi. Karena itu, UU No 22/2009 tentang LLAJ dengan tegas melarang hal itu. Setiap pengendara wajib berkonsentrasi, salah satu yang dapat merusak konsentrasi adalah mabuk.

Sekadar menyegarkan ingatan kita, kecelakaa yang dipicu oleh aspek mabuk menyumbang sekitar 1% terhadap total kecelakaan di Indonesia. Setidaknya, setiap hari terjadi tiga kasus kecelakaan yang dipicu oleh pengendara yang di bawah pengaruh alkohol. (edo rusyanto)

One Comment leave one →
  1. 18 November 2016 14:24

    Kalau mabuk memang tidak boleh berkendaraan. Karena itu berbahaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: