Skip to content

Saat Kalimat “Mohon Dibantu” Tidak Sakti Lagi

16 November 2016

busway-motor-sendirian
Ada-ada saja perilaku pengguna jalan. Misal, saat melanggar aturan tampak garang, ketika kena tilang memelas.

Ada juga yang saat melanggar, lalu ditegur malah menjadi lebih beringas. Biasanya yang begini melakukannya secara kolosal. Ada sih yang melajukannya secara individual, tapi biasanya mempertontonkan “kekuatannya”, apakah kekuatan ekonomi, sosial, hukum hingga politik.

Kisah pria muda dalam tulisan ini masuk dalam golongan yang berujung memelas.
Kejadiannya begini.

Bugi, kita sapa saja begitu, melaju di jalan raya Jakarta. Arus lalu lintas jalan pagi itu, awal November 2016, tampak ramai cenderung padat. Maklum inilah salah satu jam-jam sibuk di Jakarta. Beragam kendaraan bermotor tumpah ruah.

Perilakunya pun beragam. Ada yang dengan sabar antre, sekalipun bisa jadi ada yang tergesa-gesa tiba di tujuan. Tentu saja ada yang dengan gamblang melibas aturan, tanpa berpikir panjang. Di bagian lain, ada yang mengendap-endap melihat situasi.

“Waktu itu saya lihat banyak motor yang masuk busway, saya ikut aja. Kan ramai-ramai, pasti aman,” tutur Bugi.

Busway adalah lintasan khusus bagi angkutan umum massal Trans Jakarta. Bus besutan pada era Sutiyoso menjadi Gubernur DKI Jakarta, tahun 2004 itu memang disediakan jalan sendiri guna memudahkan mobilitas. Pada era kekinian, lintasan itu diberi penjaga dengan palang besi di mulut lintasan, walau tidak di semua koridor Trans Jakarta.

Ada juga busway yang diberi separator yang tingginya hingga lebih dari sejengkal orang dewasa. Tujuannya agar jalur itu tidak dilintasi dengan memotong jalur oleh pengguna kendaraan pribadi yang sebenarnya sudah disediakan ruang di jalan arteri.

“Tapi, waktu masuk busway ternyata ada razia, saya ditilang. Karena alasan terburu-buru saya bilang, mohon dibantu. Polisinya bilang, nanti dibantu di kantor,” ujar pria muda berkacamata itu.

Upaya memelas itu sekaligus meminta keistimewaan. Tanpa disadari, ucapan pekerja media itu mempertontonkan arogansi. Seakan, ada keistimewaan untuk kelas masyarakat tertentu ketika di jalan raya, sekalipun melanggar.

“Saya tetap ditilang,” ujar Bugi seraya memperlihatkan surat tilang berwarna merah kepada saya.

Setelah berbincang panjang lebar, akhirnya Bugi sepakat mengikuti sidang. Atau, pilihan lain mengambil ke kejaksaan negeri.

“Kira-kira dendanya berapa yah?” tanya dia.

Ada yang tahu dan pernah mengalaminya? (edo rusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: