Skip to content

Kisah “Dicium” Perempuan Pengemudi Mobil Matic

11 November 2016

motor-dan-mobil-di-jalan-jakarta2
Adegan “cium mencium” di jalan raya memang bukan barang baru. Tapi, kalau sudah “mencium” lantas membawa ke klinik pengobatan sekaligus memberi uang Rp 750 ribu, sebuah fakta yang langka.

Banyak kasus kecelakaan lalu lintas berawal oleh pelanggaran aturan di jalan. Coba saja perhatikan.

Misal, menerobos rambu dilarang masuk. Bila dipaksakan, benturan dari alur yang bersilangan amat mungkin terjadi.

Nggak percaya?

“Saya ditabrak mobil dari samping. Padahal arah mobil itu ke area yang tidak boleh masuk,” tutur Deri, kita sapa saja demikian, saat berbincang dengan saya, Kamis, 10 November 2016 malam.

Kejadian di bilangan Jakarta Selatan itu menimbulkan cedera di bagian kaki Deri. Sedangkan sepeda motor bebeknya mengalami kerusakan setelah “dicium”, walau tidak terlalu serius. “Saya dibawa ke klinik untuk diobati. Kaki saya diberi semacam bubuk untuk mencegah pembengkakan,” tutur pria yang sehari-hari bekerja di perusahaan swasta itu.

Malam saat kejadian cuaca hujan. Deri mengaku dia diposisi lajur yang semestinya, sedangkan pengemudi mobil matic yang “menciumnya” justeru melaju ke arah yang dilarang. Entah karena dorongan apa hingga perempuan pengemudi itu melanggar aturan.

Pastinya, “Perempuan itu menelepon suaminya. Dan, sang suami yang mengantar saya ke klinik,” tutur Deri.

Tak berhenti disitu, lanjutnya, sang suami membantu perbaikan sepeda motor yang rusak, termasuk membayar ongkos perbaikan di bengkel. Bahkan, Deri diberi Rp 750 ribu untuk pengobatan lanjutan. Pilihannya adalah dengan diurut oleh ahli urut.

“Suaminya juga bilang, kalau ada apa-apa saya diminta menghubunginya, seraya minta maaf atas kecelakaan yang dipicu sang isteri,” kata Deri.

Kejadian awal November 2016 tersebut dapat menjadi pembelajaran bagi kita. Antara lain, saling memaafkan amat penting dalam kehidupan bermasyarakat. Tentu saja dibarengi dengan perilaku bertanggung jawab.

Di bagian lain, butuh kesadaran untuk senantiasa mengikuti aturan yang ada di jalan raya. Bila menerapkan aturan sendiri-sendiri, bisa runyam urusannya. Setuju? (edo rusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: