Skip to content

Near Miss di Patung Pancoran

5 November 2016

patung-pancoran_sukarnoorg

PATUNG Pancoran, Jakarta berdiri kokoh menjulang ke angkasa. Situasi arus lalu lintas malam itu tampak ramai.

Patung yang bernama resmi Patung Dirgantara itu dibangun saat zaman pemerintahan Presiden Soekarno. Lokasinya sangat strategis sebagai pintu masuk dan keluar warga pinggiran Jakarta. Tentu juga sekaligus bagi warga Depok dan Bogor, ke arah selatan. Sedangkan ke arah timur menuju Kota Bekasi, Jawa Barat.

Praktis setiap hari kawasan ini ramai oleh kendaraan bermotor. Beragam kendaraan, mulai dari angkutan umum, angkutan barang hingga kendaraan pribadi. Saking padatnya arus lalu lintas membuat pemerintah membangun jalan layang (fly over) untuk menghubungkan dari arah barat ke timur dan sebaliknya.

Jarum jam menunjukkan waktu sekitar pukul 22.00 WIB saat saya memasuki kawasan Patung Pancoran, Jumat, 4 November 2016 malam. Posisi saya datang dari arah barat, yakni dari arah perempatan Kuningan, Jakarta Selatan menuju arah timur, yakni Cawang, Jakarta Timur. Namun, di perempatan Pancoran berbelok ke kanan arah ke selatan, yakni Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Saat itu, lampu pengatur lalu lintas ke arah Pasar Minggu berwarna merah. Puluhan kendaraan bermotor berhenti. Posisi mereka di kolong fly over Pancoran.

Posisi kolong fly over merajut kendaraan dari arah utara ke selatan. Atau, dari utara ke arah barat. Begitu juga dari barat ke selatan dan dari timur ke utara.

Posisi saya malam itu dari arah barat menuju ke selatan. Lampu berwarna merah membuat kami menanti dengan sabar. Arus kendaraan dari timur ke barat mengalir karena lampu mereka berwarna hijau.

Tiba-tiba kami dikejutkan oleh suara derit ban yang cukup keras. Sebuah mobil pribadi jenis hatch back mencoba mengerem sebisa mungkin. Nyaris (near miss) terjadi kecelakaan lalu lintas jalan. Mobil berhenti hanya beberapa centi meter (cm) dari sepeda motor.

Rupanya, pengendara mobil memaksakan diri melaju padahal lampu sudah berwarna merah. Sedangkan mereka yang mengarah ke selatan sudah mulai berhamburan.
Posisi saya saat kejadian berkisar 15-20 meter dari lokasi near miss tadi.

Dalam hati bersyukur tidak ada kecelakaan lalu lintas jalan. Namun, dalam hati bertanya-tanya kenapa mesti memaksakan diri menerobos lampu merah? Entahlah, hingga saya tiba di rumah dan menulis catatan ini hanya mampu menduga-duga. Barangkali sang pengendara mobil tergesa-gesa. Ironis. (edo rusyanto)

sumber foto: sukarno.org

One Comment leave one →
  1. 6 November 2016 15:32

    Inspiratif, tx

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: