Skip to content

Gara-gara Kecelakaan Perusahaan Bus Digugat Miliaran

31 Oktober 2016

bus-tour-hualien3

NYARIS jarang kita dengar ada keluarga korban kecelakaan lalu lintas jalan yang menggugat perusahaan angkutan umum. Kali ini ceritanya lain. Keluarga korban menggugat, bahkan hingga miliaran rupiah.

Semua berawal ketika Vandhii, kita sapa saja demikian, bersepeda motor pada pagi hari. Tiba-tiba dari arah berlawanan muncul sebuah bus. Angkutan umum yang sedang mendahului itu melibas marka jalan. Dan, brakk!

Kecelakaan pun terjadi. Sang pesepeda motor terluka dan menghembuskan nafas. Sepeda motor ringsek. Keluarga berduka.

Sang pengemudi bus pun menjadi pesakitan. Upaya berdamai dengan memberi santunan uang duka tak menghentikan kasus itu. Pidana penjara pun dikeluarkan oleh majelis hakim di pengadilan.

Tunggu dulu. Kecelakaan sekitar empat tahun lalu itu berdampak luas. Kali ini meluas hingga ke ranah perdata. Perusahaan bus digugat sekitar Rp 11 miliar. Besaran gugatan mencakup kerugian material dan immaterial. Oh ya, sang pengemudi pun ikut sebagai turut tergugat.

Kelurga korban selaku penggugat menilai perusahaan bus ikut bertanggung jawab. Setidaknya secara perdata.

Saling adu argumen pun terjadi di pengadilan. Pihak tergugat menganggap bahwa kecelakaan adalah tanggung jawab pengemudi. Hal itu tertera dalam perjanjian yang sudah disepakati kedua pihak. Sang pengemudi mendapat bagi hasil berupa komisi. Perusahaan menyediakan kendaraan. Mereka mitra, bukan hubungan majikan dengan buruh.

Singkat cerita, majelis hakim berkata lain. Ada keterkaitan antara pengemudi dan perusahaan. Pengemudi bekerja atas perintah. Karena itu, perusahaan juga harus bertanggung jawab.

Majelis hakim memvonis tergugat membayar kompensasi berupa kerugian material sebesar Rp 8 juta. Di luar itu semua gugatan ditolak pengadilan. Misal, gugatan bahwa kerugian immaterial atas biaya pendidikan korban sejak kecil hingga kuliah dianggap sebagai kewajiban orang tua. Tidak dapat dikabulkan majelis hakim.

Tentu sebuah vonis yang bertolak belakang dari gugatan yang mencapai miliaran rupiah.

Oh ya, selain itu, tergugat juga harus membayar ongkos Perkara sekitar Rp 600 ribu.

Bagi saya yang awam hukum, upaya menggugat perusahaan angkutan umum yang menabrak pengguna jalan nyaris sempat terpikirkan. Namun, belajar dari kasus ini ada masukan lain. Ternyata tidak mudah gugat menggugat itu. Maklum, kasus serupa Vandhii juga terjadi di kota-kota lain yang ada di Jawa.

Pastinya, kecelakaan itu menyakitkan dan dapat berdampak luas. Kita para pengguna jalan hanya bisa memangkas tingkat fatalitasnya. Jurus yang tak boleh diabaikan adalah senantiasa berkonsentrasi dan mengikuti aturan yang ada. (edo rusyanto)

foto:ilustrasi bus taiwan

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: