Skip to content

Saat Raksasa Otomotif Rangsek Properti

29 Oktober 2016

asta-properti3

SAAT pertamakali menulis masuknya PT Astra International Tbk menggarap properti tak terlintas di pikiran bahwa raksasa otomotif itu bakal serius. Waktu itu saya menulis soal masuknya Astra ke bisnis properti terpadu (mixed used), Oktober 2013.

“Kami ingin masuk ke next level,” kata Prijono Sugiarto, presiden direktur PT AstraInternational Tbk, saat meluncurkan Lini Bisnis ke-7 Astra, di Jakarta, Rabu, 26 Oktober 2016.

Acara yang bertempat di Ballroom Ritz Carlton, Jakarta itu dihadiri Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Komisaris Utama PT Astra International Budi Setia Darma, Chief Of Property PT Astra International Tbk, David Iman Santosa, Chief Executive Officer (CEO) Hong Kong Land Robert Wong, dan Presiden Komisaris PT Modernland Tbk Luntungan Honoris. Selain itu, dihadiri para undangan dari kalangan pengembang properti seperti Real Estat Indonesia (REI) dan para eksekutif di Astra Group.

Astra Group selama ini dikenal sebagai penguasa bisnis otomotif di Indonesia. Di lini sepeda motor, Astra menguasai tak kurang dari 70%. Lewat anak usaha, PT Astra Honda Motor, kelompok Astra tak tertandingi oleh pesaing-pesaingnya. Dalam lima tahun terakhir, tak kurang dari empat juta motor yang dijual kelompok Astra per tahunnya.

Sedangkan di lini mobil, kelompok Astra berjaya sebagai pemimpin pasar. Dua otot kelompok Astra ada pada Toyota Astra Motor dan Astra Daihatsu Motor.

Dari penjualan otomotif pula pundi-pundi kelompok Astra menggelembung. Hingga semester pertama 2016, Astra International mampu mengantongi pendapatan sekitar Rp 88 triliun. Sedangkan laba bersihnya sekitar Rp 7 triliun.

Kini, Astra merangsek bisnis properti. Sebuah ceruk bisnis yang memiliki kapitalisasi ratusan triliun rupiah per tahun.

“Sesuai rencana bisnis 10 tahunan, khususnya rentang 2010-2020, kami mencanangkan masuk bisnis properti,” tutur Prijono.

Tidak tanggung-tanggung, dalam menggeluti bisnis properti, Astra mendirikan lima perusahaan terkait, yakni PT Menara Astra, PT Brahmayasa Bahtera, dan PT Samadista Karya. Lalu, PT AstraLand Indonesia dan PT Astra Modern Land.

gedung-ai-2b
Khusus untuk Astra Land Indonesia, perusahaan ini adalah hasil patungan 50:50 antara PT Astra International Tbk dan Hongkong Land Group Limited. Sedangkan Astra Land Indonesia kemudian berpatungan dengan PT Mitra Sindo Makmur, anak perusahaan PT Modernland Realty Tbk, untuk mengakuisisi dan mengembangkan lahan sekitar 70 hektare (ha) di kawasan Jakarta Timur senilai Rp 3,4 triliun.

Saat ini, ada dua tonggak bisnis properti yang digulirkan Astra. Pertama, proyek perkantoran Menara Astra dan Apartemen Anandamaya, di jantung Jakarta Pusat senilai Rp 8 triliun. “Ketiga apartemen dengan nama Anandamaya ini telah terjual 91,35% dari 509 unit yang ditawarkan,” ujarnya.
Dia mengatakan, serah terima kunci apartemen ditargetkan pada pertengahan 2018. Sedangkan pembangunan perkantoran ditargetkan rampung secara keseluruhan pada 2018.

Kedua, proyek township senilai Rp 3,4 triliun di Jakarta Timur. “Kami perkirakan dalam sepuluh tahun mendatang nilai proyek township tersebut berkisar Rp 15-20 triliun,” jelas Prijono.

Di tengah itu semua Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Menpupera) Basuki Hadimuljono berharap PT Astra International Tbk ikut mengembangkan hunian berimbang. Hunian tersebut untuk masyarakat berpenghasilan rendah.

“Saya sungguh berharap Astra ikut mengembangkan hunian berimbang, selain membangun menara megah,” ujar Basuki dalam sambutan peluncuran Lini Bisnis ke-7 Astra di Jakarta, Rabu, 26 Oktober 2016.

Menurut Basuki, pemerintah tidak bisa membangun sendiri hunian bagi masyarakat. Karena itu, jurus yang dipakai adalah dengan menggandeng kalangan swasta.

“Sesuai amanat undang-undang, para pengembang harus membangun hunian berimbang, termasuk Astra,” katanya saat berbincang dengan saya, Rabu itu.

Salah satu instrumen untuk mengontrol pelaksanaan hunian berimbang, kata dia, adalah lewat mekanisme perizinan. Getolnya pemerintah membangun rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) bukan tanpa alasan. Maklum, saat ini setidaknya selisih pasokan dan permintaan rumah (backlog) mencapai 11,4 juta. (edo rusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: