Skip to content

Pemuda, Kita Bukan Bangsa Pemangsa!

28 Oktober 2016

laka-truk-siswa1

PRESIDEN pertama Republik Indonesia, Bung Karno pernah berujar, “Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.”

Kata-kata bijak itu menyiratkan bagaimana pemuda memiliki kekuatan. Kelompok usia muda adalah para pelaku perubahan. Bahkan, Bung Karno ketika memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 masih berusia 44 tahun. Bapak Bangsa Indonesia itu lahir pada 6 Juni 1901.

Sejarah juga banyak mencatat kehadiran anak-anak muda, yakni usia di bawah 40 tahun atau berkisar 30-40 tahun tampil membuat sejarah di berbagai bidang kehidupan. Ada di bidang sains, teknologi, budaya, hingga politik. Banyak tokoh muda tampil menjadi pemimpin di dunia, sebut saja misalnya, Kim Jong Un yang saat menerima daulat memimpin Korea Utara dalam usia 28 tahun. Lalu, Alexis Tsiprahs saat terpilih menjadi Perdana Menteri Yunani masih berusia 40 tahun.

Kini, 70 tahun sudah Indonesia merdeka, anak-anak muda pun tampil di berbagai lini. Mulai dari dunia olah raga, seni dan budaya hingga panggung politik. Tak ada sendi kehidupan yang tak diisi anak-anak muda berusia di bawah 40 tahun.

Kelompok usia produktif ini menjadi kelas menengah. Generasi muda menjadi harapan bangsa. Di tengah itu semua kelompok usia muda juga mewarnai kehidupan di jalan raya kita. Bagaimana tidak, dalam rentang 2011-2015, ratusan ribu anak-anak muda yang menjadi pelaku kecelakaan lalu lintas jalan.

Dalam rentang lima tahun terakhir mereka yang berusia 16-40 tahun tercatat menyumbang 73% terhadap total pelaku kecelakaan lalu lintas jalan. Setiap hari, 200-an anak-anak muda yang terlibat kecelakaan di jalan.

Sementara itu, kalangan usia muda yang menjadi korban kecelakaan pun tak kalah memprihatinkan. Sepanjang 2011-2015, setidaknya setiap hari ada 260-an anak-anak muda yang menjadi korban kecelakaan. Kontribusi usia muda terhadap total korban kecelakaan tercatat sekitar 56%.

Kecelakaan lalu lintas jalan dengan bengis memangsa para korbannya. Data Korlantas Mabes Polri juga menyebutkan bahwa setiap hari rerata ada 70-an anak bangsa yang meregang nyawa di jalan raya. Sudah saatnya kita menyerukan bahwa anak-anak muda bukanlah pemangsa di jalan raya. Kesemua itu pasti bisa dengan menanamkan prioritas saat berlalu lintas adalah keselamatan. Keselamatan di jalan menjadi budaya.

Pantas jika kita menyerukan Sumpah Keselamatan Jalan.

Bertanah Air Satu,
Tanah air tanpa petaka di jalan raya
Berbangsa Satu,
Bangsa tanpa arogansi di jalan raya
Berbahasa Satu,
Bahasa tanpa diskriminasi di jalan raya

Kita bukan bangsa pemangsa. Wujudkan lalu lintas jalan yang humanis, jalan raya yang memberi kehidupan lebih baik.
Selamat hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober. (edorusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: