Skip to content

Begini Kekritisan Siswa SLTA di Jakarta

23 Oktober 2016

img-20161023-wa0007

JANGAN anggap remeh siswa sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA) di Jakarta. Mereka punya daya kritis tersendiri, termasuk soal keselamatan jalan (road safety).

“Bagaimana jika orang tua kita dan lingkungan tidak bersinergi dalam keselamatan jalan?” tanya Irza, siswa SMA Negeri 31 Jakarta kepada saya dalam Bincang Santai Safety Starts With You, di Aula TMC Polda Metro Jaya, Minggu, 23 Oktober 2016 pagi.

Bayangkan, sejauh itu analisis sang siswa tentang lingkungan di sekitarnya yang kita tahu cukup permisif. Fakta di sekitar kita kerap mencuap orang tua yang mengizinkan anak di bawah umur untuk berkendara.

Banyak alasan untuk itu, salah satunya adalah guna memuluskan transportasi dari rumah ke sekolah dan sebaliknya, orang tua mengizinkan anak di bawah umur berkendara sendiri, khususnya bersepeda motor. Lalu, warga di sekitar sekolah dengan entengnya memberi tempat parkir bagi motor-motor siswa, ketika pihak sekolah tidak mengizinkan siswa membawa kendaraan pribadi ke sekolah.

Saya bilang ke Irza, amat bahaya jika orang tua dan lingkungan, maksudnya masyarakat sekitar, tidak bersinergi. Bahaya itu antara lain adalah terjadinya praktik pelanggaran aturan lalu lintas jalan yang bukan mustahil dapat memicu terjadinya kecelakaan lalu lintas jalan. Karena itu, para orang tua juga perlu diajak untuk memprioritaskan keselamatan di jalan ketimbang soal mangkus dan sangkilnya penggunaan sepeda motor.

“Tapi, angkutan umumnya tidak nyaman dan aman,” sergah Bagus, siswa SMAN 32 dalam ajang yang sama.

Dalih angkutan umum yang lebih mahal ongkosnya ketimbang menggunakan sepeda motor juga kerap melengkapi apa yang dituturkan Bagus. Dalam hal ini pihak sekolah dapat bersinergi dengan para orang tua maupun pemangku kepentingan lainnya, misal, pemerintah daerah (pemda). Khususnya, untuk menyediakan angkutan secara kolektif, angkutan komunitas. Kalau Pemda DKI Jakarta sudah menyediakan bus sekolah yang berwarna kuning, masyarakat dan sekolah semestinya juga bisa ikut membuat angkutan komunitas untuk di lingkungan terbatas.

Dilema anak di bawah umur berkendara memang tak bisa serta merta dapat dituntaskan oleh para orang tua dan pihak sekolah. Pemangku kepentingan keselamatan jalan lainnya, yakni dinas perhubungan, perusahaan transportasi hingga kepolisian, justeru punya andil yang cukup besar. Misal dalam penyediaan angkutan umum yang aman, nyaman, selamat, tepat waktu, terjangkau, dan ramah lingkungan.

siswa-slta-bincang-safety-2016

“Namun, peran siswa-siswa juga amat penting. Tujuan akhirnya adalah demi keselamatan bersama,” tukas Kombes (Pol) Ermayudi Sumarsono, direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Ditlantas Podal Metro Jaya yang hadir sebagai pembicara bersama saya di ajang Bincang Santai tersebut.

Dirlantas yang baru saja menjabat sekitar dua minggu di Ditlantas Polda Metro Jaya itu amat yakin peran siswa juga amat besar. Kesadaran siswa untuk berlalulintas jalan yang aman dan selamat justeru juga menjadi kata kunci. “Tanpa dukungan adik-adik siswa SLTA polisi tidak bisa berbuat banyak,” tuturnya.

Maklum, di Indonesia, menurut data Korlantas Mabes Polri,  sepanjang 2010-2015, setidaknya 176 ribu anak-anak di bawah umur menjadi korban kecelakaan di jalan. Artinya, setiap hari terdapat 85 anak-anak di bawah 15 tahun yang menjadi korban kecelakaan.

Tunggu dulu, di sisi lain, anak-anak di bawah umur yang menjadi pelaku kecelakaan ternyata juga cukup memprihatinkan. Dalam rentang 2010-2015, sedikitnya tercatat 27 ribu anak-anak yang memicu terjadinya kecelakaan di jalan. Miris.

Di sisi lain, Ermayudi mengaku akan terus membenahi kinerja para polisi lalu lintas (polantas). Polisi ingin profesional, modern, dan terpercaya. “Salah satunya, kami akan memberantas pungutan liar. Tentu di bagian lain masyarakat juga jangan memberi kepada petugas,” sergahnya.

Kembali soal kekritisan siswa SLTA di Jakarta. Dalam ajang Bincang Santai kali ini seorang siswa juga mempertanyakan soal kebijakan menyalakan lampu utama sepeda motor pada siang hari. “Kenapa harus menyalakan lampu utama pada siang hari? Bukankah itu bikin boros energi?” tuks Juan, siswa SLTA 23.

Kombes Ermayudi mengaku bahwa kebijakan itu sudah melalui penelitian dan analisis yang berbasis fakta sebelumnya. Dia mengatakan, sejumlah ahli dari perguruan tinggi dan kepolisian serta masyarakat lainnya membahas hal itu. Berangkat dari fakta, salah satunya di Jawa Timur, yang memperlihatkan bahwa banyak pesepeda motor yang tertabrak oleh mobil karena sang pengemudinya tidak melihat kehadiran sepeda motor.

dirlantas-pmj-ermayudi

“Kalau ada cahaya dari lampu motor akan membantu para pengemudi mengetahui kehadiran sepeda motor,” tuturnya.

Ok pak komandan. Ngomong-ngomong, siang hari itu defenisinya dari jam berapa sampai jam berapa yah pak? (edo rusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: