Skip to content

Pesepeda Motor Nabrak Penyeberang Jalan Kena Bui Enam Bulan

3 Oktober 2016

img-20160906-wa0014

KECELAKAAN lalu lintas jalan berdampak luas termasuk ke ranah hukum. Pelaku kecelakaan bisa meringkuk di balik jeruji penjara.

Pengalaman Rastam, kita sebut saja demikian, bisa menjadi pembelajaran kita para pesepeda motor. Pria yang belakangan terbukti tidak memiliki surat izin mengemudi (SIM) ini divonis enam bulan penjara plus denda Rp 3 juta. Sebuah vonis yang tentu saja amat berat. Satu hari saja kita terpenjara di kamar sendiri cukup menderita, apalagi mendekam di penjara selama enam bulan.

Peristiwa kecelakaan bermula ketika Rastam sedang mengendarai sepeda motor di jalan raya. Pagi itu menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi dia. Bagaimana tidak, saat hendak mendahului truk, tiba-tiba dari depan mobil, persisnya dari arah kiri jalan, muncul penyeberang jalan. Brak!

Walau sebelumnya dia melihat ada orang yang berdiri di sisi kiri jalan, dia tak menyangka orang tadi hendak menyeberang. Tabrakan tadi membuat sang penyeberang jalan menderita luka-luka, lalu meninggal dunia. Rastam pun menjadi pesakitan. Dia dibidik dengan pasal 310 ayat (4) Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Kita para pesepeda motor tak boleh lengah sedikitpun. Kecelakaan kerap terjadi karena hal-hal yang tak terduga. Hal itu bisa disebabkan oleh adanya obyek bergerak atau tidak bergerak. Pergerakan orang menyeberang jalan yang hadir tiba-tiba dari celah mobil termasuk yang sangat potensial menimbulkan kecelakaan. Maksudnya, ketika pesepeda motor tidak konsentrasi penuh, pergerakan tersebut bisa membuat panik dan kesulitan membuat langkah yang aman dan selamat. Benturan sulit dihindari.

Karena itu, ketika hendak mendahului, para pesepeda motor maupun pengendara mobil wajib memastikan area di depannya cukup aman dan selamat. Entah itu karena adanya pergerakan kendaraan lain atau orang, juga memastikan kondisi jalan yang hendak dilintasi cukup aman dan selamat. Jalan berlubang dan bergelombang bisa menggerogoti keseimbangan kita para penunggang roda dua.

Mendahului truk yang umumnya berbadan panjang dapat mengurangi pandangan sang pesepeda motor. Butuh perhitungan seksama agar proses mendahului benar-benar aman dan selamat. Salah satunya menerapkan konsep SEE alias see, evaluate, dan execute. Artinya, menghimpun informasi dengan melihat ke arah depan, belakang dan sekeliling. Lalu, mengkalkulasi risiko apakah ketika mendahului sudah cukup aman. Terakhir, mengambil keputusan apakah perlu untuk mendahului atau tetap melaju di belakang kendaraan yang ada di depan.

Sekali lagi, kecelakaan lalu lintas jalan itu menyakitkan dan berdampak luas. Bukan semata memikul luka, korban jiwa, kerugian material, namun juga berujung di balik jeruji penjara. (edo rusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: