Skip to content

Kisah Perempuan Muda Kapok Ditilang di Australia

19 September 2016

tilang-australia_efi1

DITILANG dan membayar denda tentu amat tidak mengenakkan. Apalagi jika kejadiannya di negeri orang.

Di negara kita, tilang masih dalam bentuk konvensional. Maksudnya, ketika kedapatan melanggar aturan dan kena jaring razia, sang pelanggar langsung diberi surat tilang. Setelah itu, sang pelanggar dipersilakan mengikuti sidang di pengadilan yang ditunjuk, atau membayar denda di bank yang juga telah ditunjuk pemerintah.

Bagaimana jika ditilangnya di negeri orang?

Kolega saya, seorang perempuan muda menceritakan pengalamannya ketika ditilang di Australia. Selain dendanya tergolong besar, pengalaman ditilang bisa menjadi kisah tersendiri yang sulit terlupakan.

Berikut ini kisah perempuan muda yang mengaku kapok ditilang di Negeri Kanguru itu.

Memiliki kendaraan pribadi selama di Australia memang menguntungkan. Terlebih saya yang tidak memiliki tempat tinggal tetap bisa leluasa bepergian kemanapun saya mau. Pun kendaraan akan membuat biaya perjalanan lebih murah.

Sebelum sampai Australia kemampuan menyetir saya masih berantakan. Selama di Jakarta ayah saya selalu duduk di kursi penumpang sambil memberikan arahan kepada saya yang sedang mengemudi. Kondisi berubah total saat saya harus menyetir sendirian di Australia. Terus terang saya sangat peraturan berkendara, jangankan di Australia di Indonesia pun sama saja. 

Saat baru memiliki mobil, saya berusaha menyetir dengan mematuhi peraturan yang ada. Tidak pernah ngebut, parkir sembarangan, ataupun berani melewati garis pembatas jalur. Maklum karena saya belum terlalu paham budaya berkendara di benua kangguru tersebut. Semakin sering berkendara, kepercayaan diri saya meningkat, dan semakin tahu juga kalau ada beberapa aturan yang dapat diakali.

Sebulan setelah memiliki mobil, saya mulai berani menggeber Dash, nama mobil saya, melebihi batas kecepatan. Pikir saya “yah, enggak mungkin adalah polisi di sekitar sini.” Ya memang sih, terkadang Highway Road membelah Australia di bagian tak berpenghuni, kecuali kangguru. Tidak heran bila ada rambu batas kecepatan 110 km per jam saya tidak ragu memacu Dash melewati ambang batas. Sayangnya kebiasaan tersebut berbuntut jelek.

Pada penghujung 2014, saya yang melintas di daerah pemukiman di negara bagian New South Wales diberhentikan polisi. Lampu kelap-kelip merah biru pada awalnya tidak saya sadari sebagai mobil patroli. Butuh beberapa detik sampai saya sadar dan menghentikan mobil. Tak lama polisi pun datang menghampiri.

Persis seperti adegan film Hollywood, sang polisi datang mendekati kursi kemudi. Ia memperkenalkan nama dan satuannya. Kemudian ia menyuruh saya menghitung satu sampai lima seraya menyorongkan sebuah mesin pendeteksi kadar alkohol dari bau mulut. Kemudian ia menjelaskan kalau saya telah melampaui ambang batas kecepatan maksimal. Polisi bilang untuk daerah pemukiman kecepatan maksimal adalah 50 km/ jam, sementara saya menggeber mobil sampai 70 km/ jam.

Jujur saya tidak tahu soal peraturan kecepatan maksimal itu dan tidak ada rambu sama sekali di sisi jalan. Akhirnya saya kena tilang. Dalam surat tilang saya didenda AUD 254 karena overspeeding 10 km/ jam. Petugas sepertinya kasihan pada saya yang merupakan seorang pejalan dengan duit pas-pasan. Dia bilang dirinya ssedang berbaik hati dan menurunkan pelanggaran yang saya lakukan. Menurutnya, kalau dia “jujur” menulis seberapa cepat saya mengebut, maka denda saya akan mencapai AUD 400.

Semenjak kejadian itu saya pun semakin berhati-hati dalam berkendara. Rasanya kapok harus mengeluarkan dana besar akibat kelalaian yang seharusnya bisa dihindari. Namun, suatu kali saya diberhentikan lagi oleh polisi karena mereka bilang kendaraan saya tidak teregistrasi (semacam bayar pajak kendaraan tahunan). Jelas-jelas saya membantah karena registrasi sudah saya bayar sebulan sebelum si polisi memberhentikan saya saat itu.

Dua kali berurusan dengan polisi bikin saya parno. Apalagi seorang teman pernah bilang jangan percaya polisi di negara manapun. Ih, serem. Akibatnya, jika saya sedang menyetir dan melihat polisi berpatroli saya akan langsung berhenti di pinggir jalan pura-pura beristirahat sambil menunggu si polisi menjauh. 

Sayangnya saya kembali ceroboh. Suatu kali saya menginap di sebuah hostel di Brisbane, Queensland (QLD), yang tidak memiliki lahan parkir. Resepsionis berkata kalau parkir di depan hostel tidak masalah. Kejadian yang tidak diinginkan kembali terjadi. Sebuah surat cinta tersemat di kaca mobil keesokan harinya. Tilang sebesar AUD 113 karena parkir sembarangan.

Bodohnya saya terlalu percaya pada resepsionis. Saat saya perhatikan memang saya parkir di area yang tidak seharusnya. Sepanjang jalan tersebut ada garis kuning yang memang berarti dilarang parkir. Semua mobil yang terjajar rapi di sana pun mendapatkan surat cinta yang sama.

Selidik punya selidik, ternyata jalan tersebut memang sering dijadikan lahan parkir. Tidak pernah ada masalah walau memang dilarang. Sialnya saya menginap di hostel yang lokasinya bersebrangan dengan stadion yang saat itu sedang menghelat pertandingan kriket Australia versus New Zealand, sudah pasti banyak polisi berkeliaran. Duh!

Ketakutan saya pada polisi semakin bertambah. Berpapasan dengan polisi yang sedang mampir ke restoran cepat saji pun bisa bikin saya keringat dingin. Makanya saat suatu malam saya dihentikan oleh polisi di area wisata pantai 1770 di QLD ingin rasanya berteriak “aku salah apa sih Tuhan? kok berjodoh terus dengan polisi!!!” Untungnya saat itu memang semua kendaraan diberhentikan untuk pemeriksaan kadar alkohol pengendara. Setelah mesin pengetes menunjukan saya negatif di bawah pengaruh alkohol saya pun dibiarkan melanjutkan perjalanan.

Membayar Denda

Selain dari pengalaman pribadi di atas, saya juga sering mendengar cerita dari mulut teman tentang tilang di Australia. Suatu kali seorang teman memasang lampu sen kanan dan dia malah berbelok ke kiri. Surat tilang pun sampai di tangan dengan denda sebesar AUD 120. Lain lagi seorang teman yang kena denda gara-gara tangannya beristirahat di stir mobil saat menunggu lampu merah. Suatu kali di Sydney ramai diberitakan kalau pejalan kaki yang mencuri menyebrang saat lampu merah kena denda AUD 70. Tidak memakai helm saat bersepeda bisa dikenakan sanksi AUD 70. Gila kan?!

Polisi Australia memang tidak suka ba-bi-bu. Sekali kita ketahuan salah pasti akan kena denda tanpa bisa ditawari “uang damai”. Dan pasti akan ditagih. Seorang teman yang saat berwisata menggunakan mobil sewaan di Australia terkaget-kaget saat melihat surat tilang karena mengebut sampai di rumahnya di Jakarta.

Untungnya urusan pembayaran tilang cukup mudah. Di setiap surat tilang yang saya terima baik dari kepolisian NSW atau QLD tertera nomor telepon yang bisa dihubungi untuk membayar. Kita hanya perlu mengontaknya dan menunggu sampai mesin penjawab mengarahkan untuk memilih layanan. Pembayaran bisa dilakukan dengan kartu kredit apapun. Jangan lupa mencatat nomor resi dan waktu pembayaran sebagai bukti transaksi. Mudah, kan? Mau coba? Saya mah kapok! Enggak mau lagi.

Ketakutan terhadap polisi itu terbawa saat saya pulang ke Jakarta. Lampu kelap-kelip merah biru pos polisi yang berada di sekitar Bundaran HI bikin saya gemeteran dan berpikir kesalahan apalagi yang saya lakukan. Ketakutan itu cukup berlebihan, soalnya saat itu saya sedang naik kopaja. (edo rusyanto)

2 Komentar leave one →
  1. 23 September 2016 14:59

    Wih samapi parno yah….
    Tapi mah kemahalan surat tilang di australia nggak bisa nego lagi😀

  2. 27 Oktober 2016 08:19

    Kalau di Indonesia cara tilang seperti ini bisa ‘dimanfaatkan’ gerombolan mama minta pulsa, diinfokan ke seseorang bahwa dia melanggar lampu merah, misalnya. Kemudian diberikan nomor rekening utk bayar denda. Dan ternyata no rekeningnya adalah milik penjahatnya.Tertipu yg kena denda deh..😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: