Skip to content

Polantas: Penindakan Hanya Berkontribusi 20%

14 September 2016

edo-dan-wadirlantas-pmj1

KERAP kali para penegak hukum melontarkan bahwa pelanggaran sebagai awal terjadinya kecelakaan lalu lintas jalan. Semestinya, bila pelanggaran dapat ditekan maka potensi terjadinya kecelakaan juga ikut menyusut.

Faktanya, pelanggaran demi pelanggaran terus terjadi, termasuk di kawasan Jakarta dan sekitarnya. Begitu juga dengan kasus kecelakaan di jalan.

“Dari sisi kejadian memang naik, tapi dari segi fatalitas jumlahnya menurun pada 2015,” ujar Wakil Direktur Lalu Lintas Ditlantas Polda Metro Jaya, AKBP Latif Usman, saat berbincang dengan saya, di Jakarta, baru-baru ini.

Kami bersua saat sama-sama menjadi nara sumber dalam tayangan langsung ‘Beranda’ stasiun televisi swasta Jak TV. Tayangan itu mengusung perbincangan seputar bagaimana membangun budaya tertib berlalulintas. Talkshow yang disiarkan secara langsung pada petang hari itu dipandu oleh presenter Luluk Lukmiyati dari Jak TV.

Saya melontarkan pandangan bahwa polantas semestinya bisa melakukan penegakan hukum secara tegas, konsisten, kredibel, transparan, dan tidak pandang bulu. Harapannya, ikut menekan celah terjadinya pelanggaran yang bisa memicu terjadinya kecelakaan lalu lintas jalan.

“Penegakan hukum tidak satu-satunya. Kontribusi penegakan hukum hanya 20% dalam membentuk perilaku berlalulintas jalan yang tertib. Faktor utama justeru adalah pendidikan,” tegas Wadirlantas.

Dia menilai, mayoritas yakni 80% upaya pembentukan pribadi yang disiplin adalah lewat pendidikan. Upaya itu dapat dilakukan secara formal di sekolah maupun dari lingkungan terdekat, yaitu keluarga. “Di masyarakat kita pendidikan soal berlalulintas belum dilakukan sejak usia dini. Karena itu, saat ini harus digencarkan pendidikan sejak usia dini melalui keluarga,” saran dia.

Ya. Pendidikan semestinya terus dilakukan, namun di sisi lain upaya represif juga perlu digulirkan secara maksimal. Termasuk, tentu saja dengan menggunakan electronic law enforcement (ELE). Bahkan, saya menilai, butuh juga para petugas di lapangan memberi teladan kepada para pengguna jalan.

“Masyarakat sebenarnya takut pada petugas, tapi masih ada perilaku coba-coba dari pengguna jalan ketika tidak ada petugas. Kami melihat kesadaran tertib berlalulintas dan budaya keselamatan masih minim,” tuturnya.

Dia meminta masyarakat ikut meningkatkan kesadaran tertib berlalulintas jalan. Masyarakat yang sadar akan pentingnya keselamatan di jalan bisa ikut mewujudkan lalu lintas jalan yang humanis. Ok deh pak. (edo rusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: