Skip to content

Coba Ngajak Damai, Pria Ini Tetap Ditilang

7 September 2016

tilang langgar fly over pesing

SEJUMLAH ruas jalan layang di Jakarta tak boleh dilintasi oleh pesepeda motor. Sebut saja misalnya, jalan layang non tol Antasari, Jakarta Selatan dan fly over di Cempaka Putih, Jakarta Pusat.

Larangan sepeda motor melintas di jalan layang tentu bukan tanpa alasan. Saya menduga persoalan keselamatan pesepeda motor merupakan alasan utama lahirnya larangan tersebut. Karena itu, amat mutlak sosialiasi dan pengadaan rambu tentang larangan tersebut.

“Selain itu, kalau ada razia semestinya petugas ada di awal jalan layang sehingga pesepeda menjadi lebih peduli,” seloroh Kefien, kita sapa saja demikian, saat berbincang dengan saya, Selasa, 6 September 2016 petang, di Jakarta.

Pembicaraan kami sebenarnya diawali oleh pengalaman Kefien yang baru saja ditilang karena melintas di jalan layang Pesing, Jakarta Barat. Saat kejadian, kata dia, dirinya mengikuti pergerakan pesepeda motor lainnya yang melintas di fly over tersebut. “Saya sih lihat ada rambu larangan motor naik ke fly over, tapi karena melihat banyak pesepeda motor yang naik, jadi ikut-ikutan,” tutur dia.

Apa mau dikata, tambahnya, jelang turunan di ujung fly over ada sejumlah petugas yang merazia pesepeda motor melintas disitu. Pantas saja, tukas dia, sejumlah pesepeda motor tampak ada yang berputar arah dengan memotong median jalan yang kebetulan ada celah. “Saya tidak sadar bahwa mereka putar arah karena ada razia. Ya sudah, saya mengaku salah dan bilang 86 ndan. Tapi, dijawab petugas, apa itu 86? Saya jadi takut, ya sudah terpaksa ikut ditilang saja,” papar Kefien.

Pengalaman ditilang karena melintas di fly over bagi Kefien adalah kali pertama. Dia mengaku tak ingin mengulang kembali kejadian seperti itu. Nah, soal kode ajakan damai, ternyata direspons dingin oleh petugas. Praktis Kefien merasa ketakutan bahwa urusannya jadi panjang. “Atau, jangan-jangan nanti kena denda gede,” sergah dia.

Maklum, pelanggaran atas marka dan rambu bisa kena denda maksimal Rp 500 ribu atau pidana kurungan adan maksimal dua bulan. Sedangkan jika mengikuti proses tilang dan sidang di pengadilan dendanya bisa di bawah Rp 100 ribu. “Saya nggak mau lagi melanggar aturan itu,” pungkasnya.

Ok deh Kefien. (edo rusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: