Skip to content

Dilema yang Kerap Merisaukan Orang Tua

16 Agustus 2016

bertiga motor anak ibu3

Rasa sayang pada anak kadang membuat orang tua teledor. Misal, membelikan gadget canggih untuk anak masih di bangku sekolah dasar (SD). Sang anak jadi keranjingan main game daring.

Itu belum seberapa. Ada diantara kita yang kebablasan mengizinkan anak di bawah umur untuk berkendara. Tak heran jika kita kemudian melihat anak-anak bersepeda motor, bahkan mengemudi mobil pribadi.

Pada bagian lain kita juga melihat dan mungkin mengalami sendiri bertiga atau berempat orang dalam satu sepeda motor. Komposisinya, ayah dan ibu serta satu atau dua anak kecil. Risiko dihadapi demi alasan efisiensi.

Dalam hal ini alasan ekonomi menjadi panglima. Orang tua menilai lebih hemat bersepeda motor ketimbang naik angkutan umum. Di bagian lain ada asumsi pemangkasan waktu tempuh. Sekali lagi, jika dibandingkan dengan menggunakan angkutan umum.

Pada bagian lain, demi alasan khawatir meninggalkan anak kecil sendirian di rumah, membuat orangtua membawa dua anaknya dalam satu sepeda motor. Misal, ketika hendak menjemput anak pulang sekolah atau saat hendak berbelanja di sekitar rumah.

Kesemua itu seakan menjadi pembenaran untuk memikuk risiko. Dalih efisiensi dan rasa sayang pada anak mengalahkan kesadaran bahwa bersepeda motor lebih dari orang tua bisa membahayakan keselamatan. Belum lagi, memikul risiko untuk terkena penindakan hukum oleh polisi lalu lintas (polantas).

Diluar itu semua, tanpa disadari sedang terjadi transformasi nilai-nilai kekeliruan. Terjadi pengajaran secara diam-diam bahwa bersepeda motor lebih dari dua orang dianggap lumrah. Bahkan, terjadi pengajaran bahwa naik sepeda motor tidak apa-apa tanpa memakai helm pelindung kepala. Khusus yang ini bila naik motornya tanpa memakai helm.

Lagi-lagi kesadaran kita akan keselamatan di jalan diuji. Sejauhmana prioritas keselamatan jalan diterapkan. Seperti apa para orang tua memberi pendidikan keselamatan berlalulintas jalan kepada generasi muda. Jangan lupa, karakter terbentuk karena tindakan kecil yang dilakukan secara terus menerus.

Pada gilirannya, mengubah perilaku yang sudah tertanam sejak dini adalah pekerjaan yang tidak mudah. (edo rusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: