Skip to content

Fenomena Trotoar Jakarta Dipatok Beton

13 Agustus 2016

trotoar di patok mt haryono3

DINAMIKA jalan raya Jakarta cukup tinggi. Maklum, kini setiap hari ada sekitar 20 jutaan perjalanan. Tentu, amat berbeda dengan sepuluh atau dua puluh tahun sebelumnya.

Kini, jalan-jalan di Ibukota Republik Indonesia tersebut harus menampung jutaan kendaraan bermotor yang hilir mudik. Padahal, jumlah pengatur lalu lintasnya tak lebih dari 4.500 petugas. Polisi lalu lintas (polantas) sudah barang tentu kewalahan membendung perilaku menyimpang para pengguna jalan raya.

Beragam jurus pun dilakukan para pemangku kepentingan (stakeholder) lalu lintas jalan. Polantas melakukan pendekatan preemtif, preventif, hingga represif. Sedangkan pemerintah daerah melalui dinas perhubungan dan dinas pekerjaan umum, membongkar pasang sistem transportasi hingga membangun infrastruktur yang memadai.

Lagi-lagi, kesemua itu masih belum mampu menahan laju pelanggaran demi pelanggaran lalu lintas jalan. Di wilayah Polda Metro Jaya yang menaungi Jakarta, setiap tahun terjadi sekitar satu juta pelanggaran. Itu tentu saja baru yang tercatat, bagaimana dengan pelanggaran yang tidak tercatat.

Salah satu pembangunan infrastruktur yang diharapkan mampu meningkatkan kedisiplinan pengguna jalan adalah dengan membuat penghambat di mulut trotoar. Pemandangan serupa juga tampak di sejumlah jembatan penyeberangan orang (JPO).

Fasilitas bagi pedestrian itu diharapkan tidak dilintasi oleh kendaraan bermotor, khususnya sepeda motor yang ujung-ujungnya bisa membahayakan para pedestrian. Tak heran jika kemudian di sana-sini terlihat beton-beton penutup trotoar, terutama di jalan-jalan utama seperti di Jl Jenderal Sudirman dan Jl Jenderal Gatot Subroto, Jakarta Selatan.

Kehadiran beton penghalang di mulut trotoar menjadi instrumen agar para pelanggar menjadi jera dan ternyata memang cukup mujarab. Di sejumlah titik yang semula dijarah pesepeda motor, kini sudah tidak tampak lagi karena beton berdiri kokoh. Lagi-lagi, kehadiran perilaku disiplin harus dipaksa dengan infrastruktur. (edo rusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: